mumtazanas.wordpress.com

antivirus, freeware, tips dan trik, seo, advertising

Nashihat untuk Organisasi Muhammadiyah (Penetapan Lebaran)


bismillah.jpg

 

Abu Abdillah Muhammad Yahya

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada umat Islam assunnah dan isnad. Dan yang telah meninggikan derajat ulama hadits di setiap zaman dan tempat. Dan yang telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita dengan sambungan riwayat. Dan yang telah membaguskan dan membuat indah wajah-wajah para muhaddits dan para periwayat. Yaitu orang-orang yang berjalan dan mengajak manusia untuk menempuh jalan yang penuh petunjuk lagi selamat.Kami memohon perlindungan dan ampunan kepada Allah dari kejelekan perbuatan jiwa dan dosa-dosa yang berkarat. Barangsiapa yang diberi petunjuk-Nya, niscaya tidak ada yang bisa membuatnya sesat.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan keharibaan Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wasallam yang diutus untuk menghapus seluruh syariat. Kemudian mengemban syariat Islam yang mulia dan terhormat. Dan yang dijadikan sebagai penutup para Nabi sampai hari kiamat. Dan semoga shalawat dan salam dilimpahkan pula kepada keluarga, para Sahabat dan pengikutnya sampai datangnya yaumut-tanad.

Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi selain Allah Al Ahad Ash-Shamad. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diikuti selain Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Amma ba’du :

Sesungguhnya agama ini adalah wahyu dari Allah azza wa jalla. Dan didapat dengan cara talaqqi dan isnad. Bukan dengan otodidak dan kreatifitas. Barangsiapa menyangkanya demikian, maka dia telah menjauhkan dirinya dari petunjuk sejauh-jauhnya.

Adalah Nabi shalallahu ‘alihi wasallam telah membacakan Al Qur’an kepada para Sahabat radhiyallahu ‘anhum, lalu mereka membacanya dihadapan Nabi. shalallahu ‘alihi wasallam. Dan para Shahabat membacakannya kepada para Tabi’in, lalu mereka membacanya dihadapan para Shahabat dan seterusnya. Demikianlah silsilah agama ini. Para Ulama dari dulu hingga sekarang telah menjalaninya sebagai standar baku untuk mendapatkan ilmu agama.

Demikian pula ucapan, perbuatan dan persetujuan Nabi shalallahu ‘alihi wasallam adalah bagian dari wahyu dan ilham. Orang-orang yang adil, shalih dan terpercaya sebelum kita telah menukilnya dan menyampaikannya kepada kita tanpa bias sedikitpun, baik pengurangan atau penambahan maupun kerancuan atau kesamaran. Bahkan dengan sangat jelas dan gamblang.

Hanya para pembaca kitab-kitab hadits dan mereka yang duduk bersimpuh untuk belajar dan mengambil faidah dari para Ulama yang mengetahui tingginya kedudukan As-Sunnah dan ilmu periwayatan yang disertai usaha maksimal untuk mendapatkan validitas dan kemurnian redaksi dan isnadnya.

Al Imam Abdullah bin Mubarak berkata :

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ. وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ.

Artinya: isnad adalah bagian dari agama. Dan jika tanpa isnad, niscaya siapapun bebas berbicara seenaknya (tentang agama ini). Muqaddimah Shahih Muslim

Pembaca yang budiman, terdapat berita sebagai berikut

Muhammadiyah: Teropong Digital Bisa Atasi Awan

Imam Wahyudiyanta – detikcom

SurabayaPenggunaan teropong canggih untuk melihat hilal dinilai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Prof Syafiq Mughni sah-sah saja. Namun, Rukyat tidak bisa hanya ditentukan dengan melihat hilal baik menggunakan mata telanjang maupun teropong digital.


Penentuan hilal dengan mata telanjang dilakukan karena belum berkembangnya ilmu pengetahuan. “Itu dulu waktu jaman Nabi Muhammad melihat dengan mata telanjang,” ujar Mughni saat dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (6/9/2007)

Seiring berkembangnya waktu, kata Mughni, ilmu hisab (perhitungan) dan falak (perbintangan) semakin maju dan berkembang. Nah, dengan bertambah akuratnya kedua ilmu itulah penentuan hari awal puasa bisa ditetapkan.

Namun, kata Mughni, sah-sah saja jika menggunakan alat teknologi canggih. Sebab melihat bulan dengan mata telanjang belum bisa menjamin penentuan rukyat. “Bisa saja awan menghalangi pandangan mata terhadap bulan,” katanya. (iwd/mar)

Pembaca yang budiman, mari kita bandingkan pernyataan ini dengan keterangan dan penjelasan berikut :

Saya berkata dengan mengharap taufiq dari Allah :

حَدَّثَنِيْ شَيْخُنَا الوَالِد الشَّيْخُ المُحَدِّثُ الحَافِظُ المُعَمَّرُ الفَقِيْهُ أَحْمَدُ بنُ يَحْيَى بنِ مُحَمَّد شَبِيْر النَّجْمِيُّ آل شَبِيْر الأَثَرِيُّ –حفظه الله –

عَنْ مُحَمَّد خَيْرِ الحَجِّيِّ عَنْ أَمَةِ اللهِ الدَّهْلَوِيَّةِ عَنْ أَبِيْهاَ عَبْدِ الغَنِيِّ الدَّهْلَوِيِّ المَدَنِيِّ عَنْ مُحَمَّد عَابِدِ السِّنْدِيِّ,

(ح) وَعَنْ مُحَمَّدِ بنِ عَبدِ الرَّحْمَنِ بنِ إِسْحَاقَ آلُ الشَّيْخِ عَن سَعْدِ بنِ حَمَدِ بنِ عَتِيْقٍ عَنْ صَدِّيْق حَسَن خَان القَنُوْجِيِّ عَن عَبْدِ الحَقِّ بنِ فَضْلِ اللهِ العُثْمَانِيِّ,

كِلاَهُمَا عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مُحَمَّدِ بنِ إِسْمَاعِيلَ الأَمِيرِ عَنْ أَبِيْهِ مُحَمَّدِ بنِ إِسْمَاعِيلَ الأَمِيْرِ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ عَبدِ اللهِ بنِ سَالِمِ البَصْرِيِّ المَكِّيِّ عَن إِبْرَاهِيْمَ الكَوْرَانِيِّ عَنْ سُلْطَانِ المُزَاحِيِّ عَن النُّوْرِ الزِّيَادِيِّ عَن الشَّمْسِ مُحَمَّدِ الرَّمْلِيِّ عَن زَكَرِيَّا الأَنْصَارِيِّ عَنِ العِزِّ بنِ الفُرَاتِ عَن عُمَرَ ابنِ أميلة عَنِ ابنِ البُخَارِيِّ عَنِ الإِمَامِ الحَافِظِ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبدِ الغَنِيِّ بنِ عَبدِ الوَاحِدِ المَقْدِسِيِّ-رحمه الله- صَاحِبِ عُمْدَةِ الأَحْكَامِ, أَنَّهُ قَالَ :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : ((إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْـدُرُوْا لَهُ)).

Telah menyampaikan kepada saya Syaikhuna As-Syaikh Al Muhaddits Al Hafizh Al Faqih Mufti Kerajaan Saudi Arabia Bagian Selatan, Ahmad bin Yahya bin Muhammad Syabir An-Najmi Alu Syabir Al Atsari Hafizhahullah dengan sanad yang bersambung sampai kepada Al Imam Al Hafizh Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al Maqdisi rahimahullah, beliau berkata dalam kitabnya Umdatul Ahkam :

Dari Abdullah bin Umar Radhiyalahu ‘anhuma, beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda :

“Apabila kalian melihatnya, maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya, maka berbukalah. Jika penglihatan kalian terhalang, maka sempurnakanlah 30 hari.”

Syaikhuna Ahmad An-Najmi hafizhahullah berkata :

Tema Hadits:

Yang mewajibkan puasa Ramadhan dan yang mewajibkan berbuka darinya serta hukumnya saat terjadi kesamaran.

Kosa Kata:

(إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ) : Kata ganti hu kembali kepada hilal. Dan wawu al jama’ah terarah kepada seluruh kaum muslimin.

(فَصُوْمُوْا) : Kalimat ini sebagai jawab syarth wa jaza dari kata idza. Dan yang serupa dengan kalimat ini adalah sabda Nabi: (وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا)

(فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ) : Yaitu jika penglihatan kalian terhalang oleh debu yang pekat atau mendung.

(فَاقْـدُرُوْا لَهُ) : Yaitu sempurnakanlah 30 hari.

Makna Umum :

Nabi memerintahkan umatnya untuk berpuasa dan berbuka berdasarkan ru’yatul hilal. Perintah ini terarah kepada seluruh kaum muslimin. Apabila salah seorang muslim melihatnya, maka seluruh kaum muslimin wajib berpuasa. Dan apabila dua orang atau lebih melihatnya saat keluarnya bulan Ramadhan dan masuknya bulan Syawal, maka seluruh kaum muslimin wajib berbuka dan berhari raya Idul Fitri, sebagaimana petunjuk yang terdapat pada dalil-dalil yang ada.

Fikih Hadits :

1. Dipahami darinya tentang penentuan hukumnya dengan rukyat. Dan maksud dari rukyat adalah penglihatan mata telanjang setiap individu umat ini. Oleh sebab itu terdapat hadits dari Nabi bahwa beliau bersabda :

((إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ, الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا …ألخ)) (1).

Artinya: “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak bisa menulis dan berhitung. Satu bulan demikian dan demikian…dst”.

Sabda Nabi (إِنَّا أُمَّّةٌ أُمِّيًّةٌ) menunjukkan pengingkaran terhadap penyebutan sebagian orang untuk bersandar kepada perhitungan bintang-bintang dan kedudukannya serta yang semisal dengannya.

2. Dipahami dari sabda Nabi (إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ) bahwa standarnya adalah penglihatan mata telanjang. Bukan bersandar pada penggunaan teropong bintang dan teropong digital serta teknologi canggih apapun. Perintah ini terarah kepada seluruh umat. Apa yang dikenal pada zaman tersebut sebagai cara untuk melihat hilal, maka itulah standar hukum syar’inya.

3. Dipahami dari sabda Nabi (فَصُوْمُوْا) yang merupakan jawaban dari syarat sebelumnya, bahwa rukyat dengan mata telanjanglah yang mewajibkan untuk berpuasa.

Para Ulama’ berbeda pendapat tentang persaksian yang mewajibkan puasa.

Terdapat hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyalahu ‘anhuma beliau berkata :

جَاءَ أَعْراَبِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الهِلاَلَ. قَالَ : أَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ؟ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ ؟ قَالَ : نَعَمْ. قَالَ : يَا بِلاَلُ, أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُوْمُوْا غَداً. (2)

Artinya: Seorang Arab Badui datang kepada Nabi, kemudian berkata: “Sesungguhnya saya telah melihat hilal.”

Nabi bertanya: “Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi selain Allah? Apakah anda bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Dia menjawab: “Ya”.

Nabi bersabda: “Wahai Bilal, umumkan kepada manusia agar berpuasa besok”.

Terdapat juga hadits bahwa keluarnya bulan harus dipersaksikan oleh dua orang (3).

Sedangkan standar saksi untuk masuknya bulan Ramadhan atau masuknya bulan Syawal adalah cukuplah dia sebagai seorang muslim.

4. Sabda Nabi, (وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا) yaitu apabila kalian melihat bulan Syawal, maka berbukalah. Dipahami darinya bahwa rukyat atau menyempurnakan bilangan bulan 30 hari adalah standar untuk berbuka.

5. Terdapat perbedaan dalam memahami sabda Nabi (صُوْمُوْا) dan (أَفْطِرُوْا) yang menunjukkan bahwa perintah tersebut terarah kepada seluruh umat. Apakah rukyat satu orang cukup untuk seluruhnya atau masing-masing kaum dengan rukyat mereka sendiri-sendiri.

Oleh sebab itu para Ulama berbeda pendapat: Apakah rukyat satu orang berlaku untuk seluruh kaum muslimin atau tidak berlaku kecuali kepada penduduk negerinya dan negara sekitarnya ?

Diantara para Ulama ada yang berpendapat bahwa rukyat satu orang berlaku untuk seluruh kaum muslimin. Mereka berdalil bahwa manusia di zaman Nabi dan Khulafa Ar-Rasyidin tidak mengenal rukyat setiap kaum berlaku bagi mereka sendiri. Bahkan yang tampak bahwa rukyat satu orang berlaku untuk seluruh kaum muslimin.

Saya berkata: Terdapat catatan pada pendapat ini.

Pertama: Bahwa tidak adanya penukilan tidak menunjukkan tidak terjadinya suatu kejadian. Manusia pada zaman tersebut berkomunikasi dengan alat komunikasi yang kuno. Sarana komunikasi seperti ini menjadikan penduduk setiap negeri terputus hubungan dengan negeri lainnya. Maka masing-masing negeri dengan rukyatnya untuk berpuasa dan berbuka.

Diantara buktinya adalah kisah Kuraib ketika tampak bulan kepadanya di Damaskus. Kemudian ketika sampai di Madinah pada akhir bulan, dia mengabarkan bahwa manusia melihat hilal pada malam jum’at. Maka Ibnu Abbas menjawab :

أَمَّا نَحْنُ فَقَدْ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ, فَلاَ نَزَالُ نَصُوْمُ حَتَّى نَرَاهُ أَوْ نُكْمِلَ العِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ.(4)

Artinya: “Sedangkan kami melihatnya pada malam sabtu. Maka kami akan terus berpuasa sampai kami melihatnya atau menyempurnakan bilangan 30 hari.”

Dengan hadits ini jelaslah bahwa rukyat tidak berlaku kepada mereka seluruhnya.

Kedua: Pada saat itu tidak terdapat sarana komunikasi yang dapat menyampaikan berita kepada seluruh manusia ketika hilal terlihat.

Oleh sebab itu kami katakan: Sesungguhnya pendapat terkuat bahwa manusia pada zaman itu berpegang dengan rukyat masing-masing negerinya atau menyempurnakan bilangan bulan untuk berpuasa dan berbuka.

Dan yang tampak dengan jelas menurut saya pada masalah ini dan pada zaman ini adalah: Bahwa setiap negeri berbeda rukyatnya berdasarkan perbedaan tempat keluarnya hilal. Oleh sebab itu, apabila hilal terlihat penduduk timur bumi, kelazimannya akan berlaku bagi penduduk barat bumi.

Contohnya: Jika hilal terlihat di Pakistan, maka negara-negara setelahnya yang waktu tenggelam mataharinya belakangan, diwajibkan berpegang dengan rukyat tersebut. Sebab jika matahari telah mendahului bulan di Pakistan, maka pasti lebih jauh matahari mendahului bulan pada negara-negara setelahnya.

Demikian pula jika hilal terlihat di Saudi Arabia misalnya, maka negara-negara setelahnya wajib berpuasa dan tidak wajib bagi negara-negara sebelumnya.

Praktisnya sebagai contoh, jika hilal terlihat di Saudi Arabia, maka wajib bagi Sudan, Mesir dan setelahnya dari negara-negara di Afrika dan Eropa yang waktu tenggelamnya matahari belakangan setelah Saudi Arabia untuk berpuasa. Dan tidak wajib bagi negara-negara sebelumnya seperti Pakistan, Afghanistan, Irak, dan semisalnya.

Sebab telah dimaklumi bahwa semakin ke barat, maka waktu tenggelamnya matahari pada negara bagian barat bumi semakin terbelakang daripada negara bagian timur. Ini adalah perkara jelas yang tidak diperdebatkan dan nyata keberadaannya. Demikianlah kesimpulan pada masalah ini. Wabillahit-taufiq. Selesai

Demikianlah, saya memohon kepada Allah untuk memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan ikhlash dalam berkata dan berbuat. Dan semoga penjelasan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.

Al Faqir ila ‘afwi Rabbihi

Abu Abdillah Muhammad Yahya()

17 Ramadhan 1428 H/30 September 2007 M

Desa Nijamiyah-Kab. Shamithah-Prop. Jazan

Kerajaan Saudi Arabia

Artikel terkait: Lebaran bersama Pemerintah Muslimin

Footnote: (klik utk melihat semuanya)

image001.jpgimage002.jpgimage003.jpgimage004.jpgimage005.jpg


32 responses to “Nashihat untuk Organisasi Muhammadiyah (Penetapan Lebaran)

  1. Ibu Istianah Mei 9, 2011 pukul 3:12 p

    Adik-adik di Muhammadiyah dan NU. Coba mengerti sedikit, karena terkadang FBR dan FPI ada benarnya juga, mari kita berterima kasih kepada mereka. Adik, mereka sebetulnya teman perjuangan kita untuk memerangi polisi-polisi yang lemah dan enggan memberantas calo dengan sungguh-sungguh.

    Kita salut kepada organisasi apa saja yang memerangi kemungkaran dan kejahatan terutama calo-calo di segala bidang khususnya calo-calo Batak di terminal Pulogadung itu, katanya, yang memeras para penumpang berpenghasilan rendah. FPI dan FBR maju terus, kalau perlu hajar polisi-polisi mata duitan, yang kerjasama dengan para calo tersebut.

    FBR atau lainnya perlu dan harus menghajar terus calo-calo Batak Transumatra dan Jawa di Terminal Pulogadung, sebab polisi sengaja membiarkan mereka.

    Salut dengan FBR, ganyang calo Batak Pulogadung serta bekingnya polisi terminal Pulogadung

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dua kelompok massa bentrok di depan terminal bus antar kota antar provinsi, Pulogadung, Senin (4/4/2011). Bentrok terjadi sekitar pukul 21.00 WIB.

    Kapolsek Pulogadung, Kompol Dani Hamdani menjelaskan massa FBR tidak terima ulah oknum calo Pulogadung yang telah menipu anggota FBR sekitar seminggu lalu.

    “Informasi sementara seperti itu, saat ini masih kita selidiki,” ujar Kompol Dani kepada tribunnews.com di Jakarta, Senin (4/4/2011).

    “Laki-laki gembong calo Batak Transsumatra Pulogadung itu gempal gemuk dan kepada penumpang selalu mengaku dia petugas keamanan tidak berseragam di sini dan satunya lagi laki-laki agak kurus dan cerewet kayak perempuan, ” ujar Kompol Dani Hamdani.

    Saat ini kedua massa masih berkumpul di lokasi kejadian. Situasi masih mencekam walau bentrok telah berakhir. (Ade)

    Terminal Pulogadung dikuasai calo Batak dan polisi di sana diam

    RIAUPOS.COM, TEMBILAHAN (RP) – Hati-hati jika anda “pulang kampoang” naik bus dari terminal bus Pulogadung. Anda bisa diperas calo-calo di terminal tersebut.

    “Aku diplorot celanaku dan dipaksa membayar Rp 85.000 lebih mahal dari tiket resmi oleh calo-calo Batak itu,” ujar Sukardi, usia 59 tahun, Minggu (3/5/2011).

    Bapak tua itu menuturkan kepada RP di kampung halamannya di Tembilahan, kabupaten Indragiri Hilir, provinsi Riau, setelah pulang dari terminal Pulogadung dari mengunjungi putra pertamanya yang tinggal di Jakarta beberapa hari sebelumnya.

    “Saya tidak tahu kalau banyak [calo-calo] Batak disana [di terminal Pulogadung]. Katanya setelah SBY jadi presiden, calo-calo Batak tidak ada lagi. Buktinya masih banyak,” ujar Sukardi.

    Aminah, 15, anak perempuan Sukardi, mengisahkan cerita ayahnya. “Calo-calo Batak itu memaksa setiap penumpang membayar Rp 80.000 – Rp 100.000 lebih mahal dibandingkan harga resmi tiket ke Riau. Beda-beda. Ada yang dicatut Rp 50.000, ada yang sampai Rp 150.000. Ayahku mulanya memprotes, calo itu marah lalu … ,” ujar Aminah, sambil menangis tersedu, kasihan pada ayahnya yang dipermalukan di depan umum tanpa salah apa-apa.

    “Setelah kami masuk melalui pintu utara terminal, kami didorong-dorong, ditarik-ditarik Batak-batak itu ke loket. Kami tidak berani melawan, kecuali Ayah memprotes tapi dengan mulut. Calo-calo Batak itu banyak sekali. Mereka membuntuti terus kami dari belakang,” ujar Aisah, 18, kakak Aminah, dengan geram.

    Beberapa penumpang lainnya dari bus yang tiba di Riau itu mengaku mereka memang dipaksa membayar Rp 50.000 – Rp 150.000 lebih mahal dari harga tiket resminya saat di terminal Pulogadung, dan para penumpang mengiakan peristiwa penelanjangan Sukardi oleh para calo tersebut.
    “Betul, kasihan. Orang tua tadi itu memang ditelanjangi calo-calo Batak di Pulogadung. Banyak yang melihat kejadian itu. Dua polisi berseragam, di terminal itu juga melihat dan diam saja,” ujar Tasrip, 50, warga dari sebuah desa di kecamatan Tembilahan.

    “Polisi diam karena mendapat bagian. Setiap penumpang dicatut Rp 50.000 – Rp150.000, sebagian duit itu pasti untuk polisi,” ujar Tasrip, dan mengatakan dia dipaksa membayar Rp 90 .000 lebih mahal oleh calo-calo tersebut.

    “Ini mungkin karena Presiden SBY [Susilo Bambang Yudhoyono] tidak tegas, atau mungkin ada pihak-pihak lawannya yang ngrecoki untuk memberi kesan SBY tidak tegas. Harusnya dia [SBY] menindak tegas polisi-polisi korup itu dan memberantas calo-calo itu,” ujar Tasrip.

    Joni, 34, penumpang lainnya yang berjualan di Tanah Abang asal kota Riau bersama banyak penumpang lainnya, mengatakan mereka kapok dan tidak akan pulang melalui terminal Pulogadung kalau SBY tidak minindak tegas kepala polisi Pulogadung. “Calo-calo itu harus diberantas habis dan selamanya. Polisi-polisi yang membiarkan harus diberhentikan pula,” ujar Joni, kesal.

    “Aku diperlakukan kayak binatang, diplorot celanaku. Aku sangat malu dibuatnya. Kurang ajar mereka itu semua. Pemilu yang akan datang aku tidak pilih Partai Demokrat [partainya SBY]. Saya akan pilih PKS,” ujar Sukardi, pak tua yang malang itu. “Saya juga akan pilih partai yang lain,” ujar dua putrinya.

    “Saya sejak dulu golput dan akan terus golput, tak ada yang bener, tak ada yang mempedulikan orang-orang kecil seperti kami,” ujar Tasrip. “Saya tidak akan pilih Partai Demokrat, tidak akan pilih PDI-P, tidak akan pilih Gerindra, tidak akan pilih Hanura, tidak semuanya,” ujar Joni, senada dengan Tasrip.

    Ketika ditanya partai apakah yang diharapkan bisa mengatasi masalah. “Ada. Nasdem (Nasional Demokrat) kalau organisasi massa itu menjadi partai. Jadi kitaakan pilih Partai Nasional Demokrat,” kata Tasrip.

    “Kalau aku sudah tak percaya lagi sama partai. Lebih baik mereka membuktikan mampu membersihkan calo-calo itu selamanya baru aku percaya. Surya Paloh [pemimpin Nasdem] pasti juga akan berkoalisi dengan SBY jadi percuma. Lebih baik golput terus,” ujar Joni.

    Menurut mereka, ada dua pintu di terminal bus Pulogadung. Pertama, pintu selatan menuju terminal bagian selatan untuk tujuan Jawa Timur dan Madura, dikuasai oleh calo-calo suku Jawa, yang menurut mereka, berperilaku cukup baik, tidak pernah memaksa dan hanya mengarahkan ke loket dan tidak minta uang serupiah pun. Kedua, pintu utara menuju terminal bagian utara untuk tujuan Sumatra, dikuasai calo-calo Batak.

    “Jika penumpang tidak sadar lalu masuk dari pintu utara terminal Pulogadung itu, habislah dia, diperas calo-calo Batak itu,” ujar Tasrip.

    Jalil, 25, penumpang asal Tembilahan pula, yang bersosok tinggi dan kurus, menambahkan: “Calo-calo Batak itu sengaja dipelihara oleh polisi-polisi terminal Pulogadung. Mereka sudah lama disana. Selalu muncul dari sekitar pintu masuk dan pintu gerbang dan juga di dalam terminal itu. Mereka dibiarkan. Calo-calo Batak itu semakin kurang ajar dan semakin berani kepada penumpang, karena polisi terminal Pulogadung ngeper [tidak berani menertibkan calo-calo itu]. Hari ini tertib, seminggu lagi mereka sudah berada disana lagi,” ujar Jalil. (Denny).

  2. Ibu Seina Maret 4, 2011 pukul 3:12 p

    Muhammadiyah tidak akan kehilangan relevansi dalam jaman apapun dan tidak akan kalah ebrsaing, sebab kritis. Kebohongan2 publik bisa mereka kritisi, seperti Pak Amien dan Buya Syafi’i Maarif. Mereka hebat. Lihat, saat ini, ini pemerintah apa lagi ya? Rakyat hanya dijadikan alat dan dianggap sampah. Padahal kita sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Tetapi kita perlu memerangi mentalitas yang buruk dan orang-orang tidak kapabel dan kita perlu bersama atau kelompok masing-masing. Lihatlah filosofi semut. Kenapa ini perlu, sebab di dunia ini tak ada kebenaran mutlak. Kecuali hukum fisika. Itu juga tidak mutlak penuh. Dan bagi kami orang Cina/Tionghoa, kami orang hanya lebih suka yang klasik yaitu yang ikut Muhammadiyah atau NU. Kami tidak suka yang jenggot2 seperti orang2 PKS, atau orang2 Muslim ektrim lainnya, seperti aliran Maliki, Hambali dan lainnya yang baru “diimpor” ke Indonesia belum lama, dan cenderung ekstrim, ada yang pakai jengot, norak. Ahmadiyah sebetulnya baik dan orang-orangnya tidak ekstrim. Tapi karena baik dan bisa banyak pengikut, maka difitnah dan dijegal bahkan mereka dibunuh. Padahal, negeri ini bukan negara Islam, tapi sekuler berdasarkan Ketuhanan YME seperti pada Pancasila, dasar negara, ini sangat penting. Artinya, orang boleh beragama apasaja memilih aliran apasaja selama tidak melanggar hukum nasional.

    Dan ini soal penting. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel. Membela sesama manusia di Palestina penting, tapi jangan sampai kita diperalat oleh tokoh-tokoh yang suka mengeksploitasi sentimen sesama manusia atau agama atau etnis untuk kepentingan dia-dia orang.

    Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, padahal, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang SBY baru tahu kalau Menkominfo itu, Tifatul Sembiring, tidak berguna. Kalau sudah begini, apa tidak pemborosan itu orang. Negara mau dikemanakan kalau sudah begini? Itu uang rakyat diboroskan hanya untuk menggemukkan kabinet. Pada kabinet SBY, terlalu banyak menteri dan komisi.

  3. Andis November 10, 2007 pukul 3:12 p

    Menurut saya, ada yang sakit dengan kalender umat Hijriyah. Teman-teman pasti sudah tahu penyakit itu, yakni perbedaan hari yang sangat parah setiap tahunnya, terutama saat Idul Fitri. Kadang ada tiga versi Idul Fitri. Bahkan tahun ini terjadi perbedaan pula dalam menentukan Iedul Adha. Namun yang aneh adalah kenyataan, bahwa tiba-tiba golongan-golongan yang berbeda tanggal tersebut bersepakat pada tanggal tahun baru Islam tanpa adanya perbedaan. Seolah-olah versi kalendar yang satu bisa ‘menyusul’ versi kalendar yang lain. Aneh bin ajaib.

    Kalau begini terus, apakah kalendar Hijriyah bisa menggantikan kalendar Masehi? Mungkin kalau hanya sekedar untuk menentukan hari raya masih bisa. Namun untuk menjadwalkan sesuatu yang bersifat global, urgen, dan presisi, kalender Hijriyah sepertinya masih belum bisa dipakai. Contoh masalah tersebut adalah penjadwalan utang atau penentuan komet. Bayangkan kalau dalam menghitung utang, setiap pihak punya versi kalender yang berbeda. Hancur dunia ini.

    Mungkin ada yang bertanya, “lantas kita harus memilih versi kalendar yang mana?”. Perbedaan yang ada sekarang karena ada pendapat bahwa penentuan harus dengan 1)melihat bulan dengan mata telanjang, dan 2)memakai perhitungan matematis. Dua-duanya punya dalil baik dari Al-Quran dan As-Sunnah. Shahih lagi. Dan mereka berdua sama-sama mengatakan, “kami mengikuti sunnah Nabi”. Jadi mana yang benar?

    Bisa jadi dua-duanya benar. Akan tetapi, dari segi kepraktisan saya lebih cenderung pada perhitungan matematis. Selain bisa diprediksi secara seragam, hal itu juga memungkinkan kalendar Hijriyah dipakai untuk menghitung hal-hal penting di atas. Mungkin orang yang memilih versi (1) akan berargumen, bahwa Nabi Muhammad sendiri menyuruh untuk melihat bulan dengan mata telanjang. Nah, karena saya punya dalil juga (di Al-Quran, lagi) bahwa “…bumi dan langit, masing-masing beredar pada manzilah (orbit)-nya..”, lebih baik saya utarakan saja alasan dari segi logika.

    Katanya mereka mengikuti sunnah. Apa yang didefinisikan dengan sunnah? Segala perkataan, perbuatan, dan diamnya Nabi kan?

    Kalau perbuatan Nabi yang menyuruh Bilal menentukan waktu shalat dengan tombak, itu sunnah bukan?

    Untung saja Abu Hurairah nggak nyatet itu sebagai hadits! Kalau nggak, dapat dibayangkan bagaimana repotnya dalam menentukan jadwal shalat. Nah, hari ini bagaimana kita menentukan waktu shalat? Sekarang kan kita memakai: Jadwal shalat sepanjang masa, berlaku hingga hari kiamat. Dan tidak ada pertentangan itu. Kita tidak lagi menentukan shalat memakai bayangan, meski Rasul melakukannya.

    Jadi di dalam mengikuti Sunnah, ada kaidah “sarana yang berubah, dan tujuan yang tetap”. Nah, dalam kasus shalat, tujuannya tetap menentukan waktu shalat. Sarananya berubah, kalau dulu memakai tombak dan bayangan, kalau sekarang menggunakan jadwal-shalat-sepanjang-masa yang diukur dengan jam atom Cesium yang hanya memiliki error 1 detik per 6000 tahun. Dan pemakaian jam atom Cesium ini juga disepakati umat, karena mereka memang memahami bahwa Allah telah menciptakan alam ini dengan sempurna, tanpa adanya keterlambatan sedikitpun.

    Sehingga apa salahnya memakai metode yang sama untuk memprediksi pergerakan bulan? Mengapa gerakan bulan dianggap akurat untuk shalat, tapi tidak untuk hari raya? Ataukah bulan memiliki probabilitas yang tinggi untuk berleha-leha muncul setiap tahunnya?

    Jadi kalau umat ini belum bisa mempersatukan kalendarnya sendiri, jangan harap bisa memiliki kemampuan untuk mempersatukan fraksi-fraksi yang ada dalam sebuah daulah Islamiyah. Umat ini harus berfikir, “bagaimana bila kalendar Hijriyah dipakai dalam sistem produksi global?” sebelum gontok-gontokan mempertentangkan perbedaan Iedul Fitri dan Iedul Adha yang dapat berbeda 2 hari itu.

    Pandangan Ulama Indonesia yang Aneh
    Apa pendapat ulama Indonesia tentang hal ini? Ada sebagian yang merespons dengan pendapat yang aneh. Respons mereka seperti ini:

    “Ah biar saja. Perbedaan seperti ini adalah rahmat.”

    Aneh sekali! Mereka masih menyandarkan pendapat hadits dhaif berikut:

    “Al ikhitilaafun fi ummati rahmah (ketidaksepakatan di umatku adalah rahmat).”

    Padahal hadits ini jelas-jelas bertentangan dengan al-Quran yang menyuruh kita untuk berpegang pada satu kesepakatan!

    “… dan berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah, dan janganlah kamu berpecah belah!” (QS Ali Imran 103)

    Justru diwajibkannya musyawarah dalam Islam adalah untuk mencapai kesepakatan. Jadi jelas, perpecahan kalender Hijriyah di antara umat Islam bukanlah rahmat, namun fitnah! Adapun jenis perbedaan yang dapat menjadi rahmat adalah perbedaan dalam hal seperti “skill / ilmu dunia”, dimana kita didorong untuk saling melengkapi.

    Mudah-mudahan ini bisa jadi renungan bagi umat Islam yang ingin membawa kaumnya menuju arah yang lebih baik. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan saya.

    ===================================================
    masih dari : http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/02/07/kalender-hijriyah/

  4. Andis November 10, 2007 pukul 3:12 p

    Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. -Qs. 6 Al-An’am :116

    Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan; tidaklah Allah menjadikan semua itu melainkan dengan kebenaran. Dia menjelaskan tanda-tandaNya bagi kaum yang berilmu. -Qs. 10 Yuunus :5
    Sebagai pelengkap bahasan, berikut saya sarikan dari Bab X Penanggalan Tahunan hal 170 s.d. 189 seri buku Tauhid dan Logika: “al-Qur’an tentang Shalat, Puasa dan Waktu” karya Nazwar Syamsu Terbitan Ghalia Indonesia, Jumadil Awwal 1403 H, cetakan pertama Pebruari 1983.

    ________________________________________

    “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, serta matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am 6:96)

    “Dia-lah yang menjadikan malam dan siang, matahari dan bulan; semuanya beredar dalam orbitnya masing-masing.” (Qs. 21:33)

    “Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang kedalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.Yang demikian itulah Allah Tuhan-mu, kepunyaan-Nyalah seluruh kerajaan. Dan orang-orang yang kamu sembah selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (Qs. Faathir 35:13)

    “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada hari Dia menciptakan planet-planet dan bumi, diantaranya ada empat bulan terlarang. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri padanya. Perangilah orang-orang musyrik itu seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya; Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang memelihara diri.” (Qs. at-Taubah 9:36)

    Bilangan bulan diatas ini adalah untuk masing-masing tahun, baik pada jaman dahulu maupun sekarang ini. Setiap bulan ditandai dengan timbulnya Hilal atau bulan sabit diufuk barat setelah Maghrib, ke-esokannya tampak jelas dan berupa bulan penuh setelah 14 hari, selanjutnya menyusut berupa Hilal terbalik dan menghilang diangkasa fajar setelah 29 hari untuk timbul kembali bagi bulan berikutnya.

    Lalu kenapa harus 12 bulan dan kenapa tidak 10, 14, 19 atau yang lainnya ?
    Allah menentukan jumlah bulan yang demikian berdasarkan orbit bumi dalam lingkaran oval dimana ada titik Perihelion yaitu titik terdekat dengan matahari dan titik Aphelion yaitu titik terjauh dari matahari. Dimana ada kedua titik tadi, dinamakan 1 tahun yang terdiri dari 12 bulan.

    Jadi 12 bulan yang dipakai oleh al-Qur’an surah at-Taubah 9:36 diatas, adalah lama waktu yang dipakai oleh bumi dalam mengorbit dari Perihelion ke Aphelion dan sampai kembali di Perihelion, dalam masa dimana berlangsung 12 kali orbit bulan mengelilingi bumi.

    Sekarang penanggalan ini disebut sebagai Qomariah, berdasarkan orbit bulan sekalipun didalamnya orbit bumi juga memegang peranan penting.

    Nama ke-12 bulan itu adalah : Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaedah dan Zulhijah.

    Diantara ke-12 bulan ini terdapat 4 bulan terlarang menurut ayat tersebut, yaitu : Dzulkaedah, Zulhijah, Muharram dan Rajab.

    Selama bulan terlarang ini orang dilarang berperang kecuali kalau diserang, dilarang membunuh binatang darat buruan untuk menjamin kelangsungan kehidupan makhluk yang kini disebut sebagai suaka marga satwa sebagaimana pada ayat al-Qur’an 2/217, 9/2 dan 5/96.

    Dalam al-Qur’an, tahun penanggalan yang berhubungan dengan orbit bulan keliling bumi dan orbit bumi keliling matahari disebut dengan SANAH yang sekarang disebut tahun Qomariah, sementara yang berhubungan dengan musim dinamakan dengan ‘AAM yang sekarang dikenal dengan tahun Syamsiah atau Solar Year.

    Tahun Qomariah atau Lunar Year yang menjadi dasar penanggalan Hijriah adalah tahun yang panjang waktunya tidak pernah berkurang. Hal ini dapat dimengerti jika kita mau memperhatikan sejarah dan keadaannya :

    [1.] Orbit bumi keliling matahari bukanlah berupa lingkaran bundar, karena lingkaran begini akan menggambarkan jarak bumi dari matahari selalu sama sepanjang tahun, padahal pengukuran dengan sistem parallax menyatakan ada kalanya bumi sejauh 90 juta mil dari matahari dan adakalanya berjarak 94 juta mil.

    Seandainya orbit bundar ini terlaksana, maka bumi akan kekurangan daya layangnya mengelilingi matahari, dan aktivitas Sunspots dipermukaan matahari tetap stabil, bersamaan, padahal perubahan aktivitas itu selalu ada karena ditimbulkan oleh tarikan matahari pada planet-planet yang kadang-kadang mendekat dan kadang-kadang menjauh.

    [2.] Orbit bumi mengelilingi matahari bukan pula berupa lingkaran elips atau lonjong, karena lingkaran ini akan membentuk dua titik perihelion dan dua titik aphelion orbit. Jika ini memang berlaku, maka susunan tatasurya akan kacau balau dengan akibat yang susah untuk diramalkan. Dan dengan pemikiran yang wajar, rasional, orbit demikian dapat dikatakan tidak mungkin terjadi dalam tarik-menariknya matahari dengan bumi, karena setiap kali bumi berada pada titik perihelion orbitnya, dia harus tertarik untuk membelokkan arah layangnya kekiri beberapa derajat mendekati matahari yang dikitarinya.

    “Sungguh, Allah menahan planet-planet dan bumi agar tidak luput /dari garis orbitnya/, Jika semua itu sampai luput, adakah yang dapat menahannya selain Dia ?
    Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
    (Qs. Faathir 35:41)

    [3.] Orbit berbentuk lingkaran oval adalah satu-satunya yang dilakukan bumi, memiliki satu titik perihelion, yaitu titik dimana bumi paling dekat terhadap matahari sembari melayang cepat dan satu titik aphelion yaitu titik terjauh dari matahari, waktu dimana bumi melayang lambat. Dengan orbit oval begini, terwujudlah daya layang berkelanjutan menurut ketentuan Allah, begitupun jarak relatif antara 90 juta dan 94 juta mil, dan aktivitas Sunspots yang berubah sepanjang tahun untuk mewujudkan perubahan cuaca dimuka bumi.

    Lingkaran oval berbentuk bulat telur dimana ada bujur besar dengan titik aphelion, dan bujur kecil dengan titik perihelion. Sewaktu bumi berada pada titik perihelion ini, tarik menariknya sangat kuat terhadap matahari, sehingga ketika itu gelombang laut tampak lebih besar dari biasanya, dan mulailah penanggalan Muharram selaku bulan pertama Lunar Year.

    Karena keadaan bumi serius sekali, melayang cepat dengan jarak paling dekat terhadap matahari, lalu dinyatakan Muharram selaku bulan terlarang, yaitu Syahrul Haraam yang sering juga diartikan dengan “Bulan Mulia”.

    Kemudian itu bumi mulai melayang lambat dan paling lambat sewaktu berada dititik aphelion, yaitu bulan ke-7, maka bulan Rajab itupun dinamakan bulan terlarang, karena bumi ketika itu mencapai jarak paling jauh dari matahari dalam keadaan serius. Pada tanggal 27 bulan Rajab ini juga dahulu Nabi Muhammad Saw telah di-Mi’rajkan Allah dari bumi keplanet Muntaha.

    Setelah itu, bumi mulai pula melayang cepat karena ditarik oleh matahari sehingga mencapai bulan ke-11 dan lebih cepat pada bulan ke-12, yaitu bulan Zulkaedah dan Zulhijah, semakin dekat pada matahari, lalu kedua bulan itu juga dinamakan bulan terlarang, karena nyatanya bumi dalam keadaan serius. Pada tanggal 29 Zulhijah, bumi telah menyelesaikan satu orbitnya 345 derajat mengelilingi matahari, yaitu satu tahun Lunar Year.

    Itulah juga sebabnya bila ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan, mengapa Muharram, Rajab, Zulkaedah dan Zulhijah dinamakan oleh al-Qur’an sebagai 4 bulan terlarang, pada bulan-bulan itu bumi sedang mengalami tarikan kuat dari matahari dan juga mengalami tarikan yang lemah sehingga manusia bumi bagaikan diberi peringatan mengenai planet yang didiami terutama mereka yang mendalami ilmu Hisaab dan Astronomi.

    Dalam pada itu, bulan Rabi’ul Awwal, bulan dimana Nabi Muhammad Saw lahir dan wafat tidak dinyatakan sebagai bulan terlarang, karena Islam tidak mengenal kultus individu.

    Satu kali orbit bumi mengelilingi matahari bukan 360 derajat, tetapi 345 derajat dilaluinya selama 354 hari 8 jam 45 menit dan 36 detik. Dalam satu bulan Qomariah, bumi bergerak sejauh 28 derajat dan 45′ atau dalam satu hari sejauh 0 derajat dan 58′ 28″, 4.

    Perlu dicatat bahwa bulan mengorbit mengelilingi bumi sejauh 331 derajat 5, selama 29 hari 12 jam 44,04 menit. Dia bergerak dalam satu hari sejauh 11 derajat dan 12′.
    Jadi keliling 360 derajat – 331 derajat dan 15′ = 28 derajat dan 45′ kalau dikalikan 12 bulan Qomariah, maka satu tahun Islam adalah 354 hari 8 jam 48 menit dan 36 detik atau 345 gerak edar bumi mengelilingi matahari.

    Untuk mengitari matahari 360 derajat keliling, maka bumi memakai waktu selama 370 hari. Dalam pada itu satu tahun musim pada abad 20 Masehi dijalani bumi sejauh 355 derajat dan 12′ selama 365 hari 6 jam. Hal ini dapat dibuktikan dengan terlambatnya bintang-bintang diangkasa pada waktu tertentu yang sama setiap tahunnya sejauh 4 derajat dan 48′.

    Jadi menurut tahun musim atau Solar Year, maka bumi bergerak mengelilingi matahari sejauh 355 derajat dan 12′ yaitu 4 derajat dan 48′ sebelum mencapai titik lingkaran penuh, hingga 360 derajat – 355 derajat dan 12″ = 4 derajat serta 48′ jika dikalikan dengan 75 tahun musim menjadi 360 derajat, barulah bumi berada pada posisi pertama selaku awal tahunnya. Ketika itu bintang-bintang diangkasa mungkin berada kembali pada posisi tertentu pada waktu bersamaan dengan 75 tahun yang lalu, karena bumi sendiri bukan berada pada titik perihelion orbit semula.

    Namun jika dihitung menurut tahun Hijriah atau Lunar Year, ternyata bumi memulai orbitnya dari titik perihelion tanggal 1 Muharram, lalu bergerak 345 derajat keliling matahari yaitu 15 derajat sebelum mencapai titik lingkaran 360 derajat penuh. Setelah 24 tahun kemudiannya, bumi berada pada posisi semula, yaitu 360 derajat – 345 derajat = 15 derajat X 24 tahun = 360 derajat. Waktu itu setiap bintang diangkasa berada kembali pada posisi tertentu bersamaan dengan posisinya pada waktu tertentu 24 tahun yang lalu, dan bumi juga berada kembali pada titik perihelion orbitnya semula.

    Waktu pergantian musim tidak praktis untuk dijadikan dasar penanggalan dibumi, apalagi diplanet-planet lain yang panjang waktu pergantian musimnya sangat berbeda.

    Penanggalan Lunar Year dimulai dari Hari Gerhana Matahari dengan pengetahuan bahwa sorenya pasti ada Hilal bulan diufuk barat. Sekiranya tanggal 1 Muharram, yaitu bulan pertama, bertepatan dengan tanggal 21 Maret atau 22 September pada abad 20 Masehi, tentulah terjadi gerhana penuh disuatu tempat tertentu pada ekuator bumi.

    Hal ini memang telah berlaku pada tanggal 21 Maret 1901 waktu dimana Umbra atau Gerhana Matahari penuh terjadi. Kemudian 1 Muharram tercatat tanggal 20 Maret 1935 dan tanggal 19 Maret 1969, waktu itu terdapat Penumbra atau Gerhana Matahari tidak penuh di Sumatera Tengah, tegasnya di Bukit Tinggi, dan hal itu juga menjadi bukti bahwa bumi dalam orbit ovalnya keliling matahari melalui garis zigzag atau melenggang keutara dan keselatan garis Ekliptik.

    Karena itu juga garis Umbra gerhana penuh pada tanggal 23 Desember sampai 21 Juni melengkung kearah utara permukaan bumi, sebab waktu itu bumi bergerak keselatan Ekliptik keliling matahari, lalu bayangan bulat tampak bergerak keutara. Sebaliknya jika gerhana itu berlaku tanggal 22 Juni sampai 22 Desember, Umbra tampak melengkung kearah selatan selaku bayangan bulan, karena ketika itu bumi bergerak keutara.

    Namun gerhana matahari pada tanggal 21, 20, 19 Maret tadi telah kita pergunakan selaku bahan penyusunan kalender Nuclear untuk satu abad Hijriah dan Masehi, diterbitkan lalu diedarkan pada masyarakat umum.

    Dengan perhitungan atas orbit bumi dan orbit bulan sebagai diatas tadi, kita memperoleh ketentuan bahwa :

    [a.] Ramadhan memiliki 29 hari tetapi 30 hari pada tahun ke-3
    [b.] Satu tahun Qomariah terdiri dari 354 hari, tetapi 355 hari pada tahun ke-3
    [c.] Setiap seperempat abad jumlah hari yang dimiliki Ramadhan seperti dibawah ini :

    Ramadhan Jumlah
    Tahun Harinya

    1400 30
    1401 29
    1402 30
    1403 29
    1404 29
    1405 30
    : :
    : :
    1417 30
    1418 29
    1419 29
    1420 30
    1421 29
    1422 29
    1423 30
    : :
    : :
    1428 29
    1429 29
    1430 30

    Dan seterusnya.
    Penduduk Mesir adalah yang pertama kali menjadikan pergantian musim untuk penanggalan sesuai dengan jadwal pertanian waktu itu, ditandai dengan bintang Sirius bersamaan dengan terbitnya matahari diufuk timur. Dan dalam beberapa dokumentasi yang beredar, hal yang sama juga berlaku pada bangsa Maya di Mexico, semenjak kira-kira 580 tahun sebelum Masehi.

    Sewaktu Julius Caesar berada di Mesir, beliau dapat mempelajari penanggalan musim, dan dengan pertolongan seorang Astronom Greek bernama SOSIGENES, lalu merubah tradisi bangsa Roma yang ketika itu memakai Qomariah dengan penanggalan musim.

    Nama bulan ke-7 yang oleh Mesir disebut QUINTILIS ditukar dengan nama JULY untuk menghormati Julius Caesar. Dia dilahirkan pada tahun 116 sebelum Masehi dan meninggal tahun 44 sebelum Masehi, sedangkan penanggalan musim itu mulai disyahkan pemakaiannya pada tahun 45 sebelum Masehi, yaitu 1 tahun sebelum kematiannya.

    Sewaktu penanggalan itu diuji ternyata cocok dengan pergantian musim yang satu tahunnya terdiri dari 365 hari 6 jam, maka mulailah bangsa lain, yang mulanya memakai Lunar Year, mengikuti penanggalan musim.

    “The 1973 World Almanac And Book of Facts” menyatakan bahwa penganut Protestan barulah memakai penanggalan musim pada permulaan abad 18 Masehi, Prancis pada tahun 1793, Jepang tahun 1873, China tahun 1912, Greek tahun 1924 dan Turki tahun 1927.

    Setelah 16 abad, ternyata penanggalan musim yang disyahkan oleh Julius Caesar itu tidak tepat lagi sebagai tahun musim, karena memang lenggang bumi keutara dan keselatan telah semakin berkurang sesuai dengan berkurangnya gerak pendolum bebas. Daerah kutub yang diliputi es semakin meluas sesuai dengan ketentuan al-Qur’an surah 13/41 dan 21/44

    “Apa tidakkah mereka perhatikan bahwa Kami mendatangi bumi itu, Kami kurangi dia dari ujung-ujungnya (kutub-kutubnya). Dan Allah itulah yang memberi hukum. tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah yang Maha cepat perhitungan-Nya.” (Qs. ar-Ra’d 13:41)

    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Kami mendatang bumi itu, lalu Kami kurangi dia dari ujung-ujungnya (kutub-kutubnya sehingga daerah panas semakin sempit) ?, Maka apakah mereka yang menang ?” (Qs. al-Anbiyaa’ 21:44)

    Perluasan daerah kutub ini pernah dikatakan “Bumi jadi semakin dingin”, musim dingin lebih cepat datangnya dari masa lalu.

    Maka Paus Georgery VIII memperpendek penanggalan tersebut dan menetapkan tanggal 04 Oktober 1582 menjadi tanggal 15 Oktober 1582, yaitu memperpendek 11 hari, didasarkan pada pergantian musim yang berlaku tidak cocok lagi dengan penanggalan Julius Caesar, dan bahwa waktu dalam tahun musim telah semakin berkurang. Tepatnya waktu itu adalah 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik. Penanggalan inilah yang masih dipakai sampai abad 20 Masehi kita sekarang.

    Sebagai akibat dari kalender Georgery ini, maka Inggris dan daerah koloninya di Amerika merubah tanggal 03 September 1752 menjadi tanggal 14 September, hingga hari kelahiran George Washington yang mulanya dicatat tanggal 11 Pebruari 1731 harus dirubah menjadi tanggal 22 Pebruari 1731. Sementara itu timbul pula perbedaan pendapat mengenai hari lahir Jesus al-Masih yang dinyatakan 25 Desember, ada yang menyatakan 4 tahun sebelum tahun Masehi yang berlaku hingga tahun 1990 kini haruslah ditulis tahun 1994.

    Namun Julius Caesar telah benar pada jamannya, begitupun Paus Georgery VIII, keduanya menyusun penanggalan musim yang cocok pada jaman masing-masing, tetapi waktu pergantian itu sendiri yang telah berkurang. Dan bernarlah pula pernyataan “Encyclopedia Americana” 1975 jilid 9 halaman 588 bahwa penyimpangan ekuator bumi dari garis Ekliptik keliling matahari tercatat 23 derajat dan 27′ pada tahun 1975 dan berkurang terus menerus 0 derajat dan 75′ setiap seratus tahun.

    Penanggalan musim yang disebut dengan tahun Masehi kini bukanlah didasarkan atas peredaran bumi mengelilingi matahari, karena Julius Caesar dan Paus Georgery VIII sendiri masih menyangka bintang-bintanglah yang mengelilingi bumi dan mereka belum mengetahui keadaan bumi sebenarnya.

    Seperti yang kita ketahui dari sejarah, diluar kawasan Islam telah terjadi konfrontasi antara ilmu pengetahuan dengan agama. Setiap keterangan ilmu yang tidak sepaham dengan gereja segera dibatalkan oleh Kepala Gereja. Itulah yang terjadi pada Astronom Nicholas Copernicus (1507) yang menghidupkan kembali ajaran orang-orang Yunani dijaman purba yang mengatakan bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi sebagaimana ajaran gereja dan tercantum pada Yosua 10:12-13, melainkan bumi yang berputar dan mengedari matahari.

    Galileo Gelilei yang membela teori tersebut pada tahun 1633 diancam hukuman bakar seandainya dia tidak mencabut kembali teori tersebut oleh Inkuisisi, yaitu organisasi yang dibentuk oleh gereja Katolik Roma yang menyelidiki ilmu klenik sehingga sikap gereja yang kaku itu telah menimbulkan tuduhan bahwa agama menjadi penghalang bagi kemerdekaan berpikir dan kemajuan ilmu.

    Dari keadaan demikian terjadilah berbagai pemberontakan dari dalam.
    Pada tahun 1517 terjadi reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther sehingga menimbulkan kelompok Protestan.

    Pada tahun 1992, yaitu setelah 359 tahun kecaman kepada Galileo dilontarkan oleh pihak gereja, akhirnya gereja Katolik Roma secara resmi mengakui telah melakukan kesalahan terhadap Galileo Gelilei dan Paus Yohanes Paulus II sendiri telah merehabilitasinya.

    Rehabilitasi diberikan setelah Paus Paulus menerima hasil studi komisi Akademis Ilmu Pengetahuan Kepausan yang dia bentuk 13 tahun sebelumnya dengan tugas menyelidiki kasus itu. Komisi ini memberitahukan, anggota Inkuisisi tang mengecam Galileo telah berbuat kesalahan. Mereka menetapkan keputusan secara subjektif dan membebankan banyak perasaan sakit pada ilmuwan yang kini dipandang sebagai bapak Fisika Eksperimental itu.

    “Kesalahan ini harus diakui secara jantan sebagaimana yang Bapa Suci minta”, demikian kata ketua Komisi Kardinal Paul Poupard pada Paus Paulus dalam suatu upacara.

    Paulus Yohanes dan beberapa pendahulunya mengakui bahwa gereja melakukan kesalahan, tapi para ilmuwan mengkritik Vatican karena tidak bergerak cepat untuk meluruskan masalah itu secara resmi.

    Tetapi anehnya justru masyarakat masa kini termasuk diri kita, masih berpegang pada penanggalan musim tersebut dan bahkan mengira bahwa orbit bumi mengelilingi matahari adalah menjadi dasar dan cocok dengan penanggalan tersebut.

    Suatu hal yang mungkin luput dari pengkajian, yaitu penanggalan musim itu hanya menguntungkan penduduk bumi Temperature Zone sebelah utara dan merugikan penduduk bumi belahan selatan, terutama mengenai masa libur. Mereka bertahun baru tanpa dasar tertentu, dan berbulan baru sewaktu bulan diangkasa purnama raya.

    Kalender Julius Caesar diperbaiki oleh Paus Georgery VIII setelah 16 abad, dan perbaikan itu sudah berlangsung 4 abad, karenanya sekarang wajar sekali timbul pendapat yang menyatakan bahwa pergantian musim tidak lagi cocok dengan penanggalan Masehi.

    Penanggalan inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam al-Qur’an :

    “Bahwa pengunduran itu tidak lain hanyalah menambah kekufuran yang dengannya tersesat orang-orang kafir. Mereka menghalalkannya pada satu musim dan mengharamkannya pada satu musim yang lain untuk menguasai bilangan yang diharamkan oleh Allah kemudian menghalalkan yang Allah haramkan. Dihiasi bagi mereka kejahatan amal mereka dan Allah tidak menunjuki kaum yang kafir.”
    (Qs. at-Taubah 9:37)

    Allah telah mencegah kita untuk memakai penanggalan didasarkan atas pergantian musim, karena secara ilmu pengetahuan, penanggalan ini tidak bersifat permanen bahkan selalu makin berkurang waktunya, menguntungkan penduduk belahan utara dan merugikan penduduk belahan selatan untuk selamanya. Apalagi didaerah kutub dimana satu tahunnya terdiri dari satu siang dan satu malam.

    Penanggalan ini menghilangkan nilai 4 bulan terlarang yang pada awal abad 15 Hijriah hampir tidak dihiraukan oleh orang-orang Islam sendiri. Dinyatakan bahwa penanggalan musim ini selaku pengunduran, yaitu mengundurkan jumlah hari setahun dari 355 menjadi 365 pada abad 15 hijriah dan dinyatakan penambahan dalam kekafiran karena penanggalan itu menyebabkan tanggal-tanggal penting dalam Islam jadi tidak menentu, nyaris tidak ada kepastian.

    Penanggalan ini juga yang menyebabkan orang berlibur mingguan, terbukti dengan nam Friday dan Sunday yaitu hari untuk libur dan bermandi sinar matahari dipantai atau disuatu tempat terbuka lainnya waktu dimana hukum Islam sulit terlaksana. Akhirnya pemakai penanggalan musim akan menghalalkan yang secara jelas diharamkan oleh Allah dan itulah penambahan dalam kekafiran.

    “Mereka bertanya kepadamu tentang Hilal, katakanlah: Dia adalah penentuan waktu bagi manusia dan Haji, dan tiada kebaikan bahwa kamu mendatangi rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebaikan itu adalah siapa yang menyadarinya. Datangilah rumah-rumah dari pintu-pintunya. dan berbaktilah kepada Allah, agar kamu mendapatkan kejayaan.” (Qs. al-Baqarah 2:189)

    Hilal yaitu bulan baru atau bulan sabit yang waktunya ditentukan Allah 12 kali dalam satu tahun, dinyatakan dalam al-Qur’an :

    “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan; tidaklah Allah menjadikan semua itu melainkan dengan kebenaran. Dia menjelaskan tanda-tandaNya bagi kaum yang berilmu.”
    (Qs. Yuunus 10:5)

    Serta al-Qur’an surah 9:36 sebagaimana yang telah kita kutipkan dibagian awal tulisan.
    Adapun maksud dari ayat al-Qur’an Surah al-Baqarah 2:189 diatas bahwa orang tidak boleh mendatangi rumah-rumah dari belakangnya tetapi hendaklah mendatangi dari pintu-pintunya. Dalam penafsiran ilmu pengetahuan, bahwa memang orang yang sehat selalu mendatangi atau memasuki rumah dari pintunya dan tidak ada seorangpun yang sehat memasuki rumah dari belakang yang tidak berpintu.

    Sekalipun tampaknya ayat ini wajar dan biasa, akan tetapi dalam pandangan seorang ilmuwan, ayat ini telah menyindir akan penanggalan musim yang dipergunakan oleh manusia sekarang.

    Bahwa Allah menyeru manusia agar sebaiknya mendatangi atau memasuki bulan penanggalan setiap tahun mesti dari Hilal bulan yang dinyatakan pada awal ayat al-Qur’an Surah al-Baqarah 2:189 diatas itu sendiri.

    Hendaklah orang berbulan baru diwaktu Hilal bulan mulai ada diufuk barat disenja hari seperti yang berlaku pada penanggalan Qomariah, tetapi orang yang memakai penanggalan musim tidak memperdulikan Hilal bulan itu bahkan mereka sering berbulan baru diwaktu bulan telah purnama
    ================================================
    dari : http://ismailfaruqi.wordpress.com/2007/02/07/kalender-hijriyah/

  5. hyorinmaru November 6, 2007 pukul 3:12 p

    @salafikwt:
    Maksudnya: Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi Mufti Daerah Jizaan? Kalo ini mah ada di http://www.darussalaf.or.id/modules.php?op=modload&name=News&file=index&catid=18&topic=
    Nama-nama ada banyak kemiripan sih, per bagian/suku kata tertentu… :-|

  6. wawan November 5, 2007 pukul 3:12 p

    assalamu’alaikum. sesama islam mari kita saling menghormati perbedaan ini jangan karena perbedaan menentukan 1 syawal islam jadi terpecah belah.

  7. salafikwt November 4, 2007 pukul 3:12 p

    Assalamu’alaikum. Akhi……..jika anta tahu biografi singkat tentang Ustadz Muhammad Yahya, tolong kirim ke email ana: bindasmin@yahoo.com. Jazakallohu khoir.

    Wa’alaikumussalam,
    Beliau adalah bekas staf pengajar di Masjid Fatahillah Depok, sekarang belajar di Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi Mufti Daerah Jizaan. Nama asli ustadz Muhammad Cahyo, atas saran Syaikh Robi` beliau ganti nama.

  8. namrehu Oktober 24, 2007 pukul 3:12 p

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr : Rasulullah SAW bersabda : Sungguh akan datang pada umatku apa yang pernah terjadi pada Bani Israil seperti sandal dengan sandal, hingga kalau pun di kalangan mereka terjadi orang yang menzinai ibunya sendiri, maka di kalangan umat ini pun akan terjadi. Dan sesungguhnya bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya dalam neraka kecuai satu golongan. Para shahabat bertanya: “Siapakah golongan tersebut ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Apa yang aku dan para shahabatku telah jalani”. (HR. Tirmidzi; Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Jami’ Tirmidzi, hadits no. 2641)
    Apa benar hadits tsb shahih? Jika benar shahih, itulah yg sekarang sedang terjadi heboh di indonesia.Apa benar islam dilarang berpolitik? itulah sedang terjadi di organisasi2 di indonesia seperti Muhammadiyah,NU,PKS,PPP,Partai Bulan Bintang dsbnya yg hanya memecahkan umat islam.Masing2 partai saling memfitnah & menganggap dirinya lah yg paling benar.Semoga kaum salfy tidak ikut2an untuk membentuk organisasi berbau politik.AMIN.

  9. kurtubi Oktober 21, 2007 pukul 3:12 p

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Masalah perbedaan ini sudah dari dulu dibicarakan. Bahkan abad ke 2 pembukuan hadits perbedaan dalam beribadah sudah mengemuka. Jadi melebarkan dan memperjelas perbedaan rasanya enak dibicarakan tapi juga mengundang kontroversi berkelenjuta.

    Namun untuk wacana pengetahuan sangat bagus artikel ini. Namun tentu saja pihak Muhammadiyah akan bertahan dengan pendapatnya… Pemerintah saja mempersilahkan para Muhammadiyun itu berlebaran berbeda dengannya, meskipun dianggap lemah oleh para pengikut hisab+rukyat.

    Saya mau bertanya, kalau tidak salah Ibnu Taymiyyah pun dalam masalah penetapan awal /bulan menyinggung tentang ikuti saja ulil amri …. (adakah informasinya kang?)

    Ada pula komnetar menarik di blog saya bahwa Muhammadiyah dalam hal ini bukan masalah fiqih semata tapi “rivalitas sosial semata” wallahu a’lam…

    Wa’alaikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh,

    Ibnu Taymiyyah pun dalam masalah penetapan awal /bulan menyinggung tentang ikuti saja ulil amri …. (adakah informasinya kang?)

    Ada mas itu di artikel selanjutnya

  10. Rakhman Oktober 18, 2007 pukul 3:12 p

    Bismillahirrohmaanirrohiimmm….

    Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh…

    Saya pernah membaca buku yang di dalamnya ditulis bahwa nabi bersabda ada lebih dari 70 cabang keimanan. Tepatnya setelah diteliti oleh penulis buku, ada 77 cabang keimanan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.

    Salah satu cabang keimanan yang saya baca adalah percaya kepada pemimpin yang berkuasa (pemerintah) selama tidak menganjurkan kepada kemaksiatan.
    Saya bukan orang NU dan bukan termasuk anggota atau partisan organisasi keislaman lainnya. Saya hanya orang muslim yang berusaha menjalankan agama Islam dengan benar dan baik sesuai dengan Al-Quran dan hadits. Jadi saya akan tetap mengikuti keputusan pemerintah selama pemimpinnya adalah orang muslim yang menurut saya masih baik untuk diikuti.

    Mohon maaf apabila ada kekeliruan.Terima kasih.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh…

  11. Acmad Romadona Oktober 16, 2007 pukul 3:12 p

    Bismillahirrohmaanirrohiimmm….

    Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh…

    Segala puji bagi Allah SWT atas nikmat iman dan islam yang diberikan kepada kita semua….

    Solawat serta salam kita panjatkan kepada nabi Muhammad SAW….beserta keluarga dan para sahabat….

    Mohon maaf jika ada kata-kata yg salah dari tulisan yang saya tulis ini…

    insya Allah perhitungan hisab yang diutarakan oleh Muhammadiyah benar…..

    insya Allah perhitungan ru’yah yang diutarakan oleh NU benar….

    kita berserah diri kepada Allah….sesungguhnya hanya Dia yang Maha Mengetahui atas segala sesuatunya….

    bukankah kita memiliki pemerintahan yang sah ???

    bukankah kita memiliki departemen agama yang sah ???

    bukankah pemerintah itu sebuah sistem yang membuat kita menjadi lebih satu lagi dari banyaknya sub-sistem yang ada pada negara ini ???

    apakah sebuah atau beberapa sub-sistem memiliki hak yang begitu besar dalam menentukan sesuatu sedangkan sub-sistem itu di dalam sebuah sistem tersebut ???

    dimanakah rasa hormat sub-sistem tersebut ???

    dimanakah rasa malu sub sistem tersebut ???

    atau…apakah sub-sistem ini sudah tidak percaya lagi pada sistemnya ???

    di negara kita tercinta ini, kita merayakan hari raya idul fitri 4 kali, yaitu hari kamis, jum’at, sabtu, minggu…

    yang saya tau, hari jum’at berdasarkan hisab….hari sabtu berdasarkan ru’yah….

    yang ingin saya tanyakan berdasarkan perhitungan apakah hari kamis dan minggu ??? apakah berdasarkan syariat islam ???

    tanpa ada maksud menambahkan masalah…. saya hanya haus akan ilmu dan informasi saja. :D

    mohon maaf jika ada kesalahan…

    Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh…

    sir_athlonxp@yahoo.com

    Wa’alaikumussalam Warohmatullah Wabarokatuh
    Klo yg hari Kamis dan Ahad saya tidak tahu. Boleh tahu organisasi/kelompok apa dan dimana?

  12. Pandu Abu Abdillaah Ibnu Askar al-Jaakartiy Oktober 15, 2007 pukul 3:12 p

    Mau tanya aja, apakah al-Ustadz Abu Abdillaah Muhammad Yahya itu sama dengan al- Ustadz Abu Abdillaah Muhammad Cahyo ya ? Baarakallaahu fiikum

  13. AdhiRock Oktober 14, 2007 pukul 3:12 p

    Seperti yg telah saya jelaskan diatas.. bahwa ini masalah approaching dlm penafsiran. Golongan yg lebaran tgl 12 menggunakan pendekatan kontekstual, merelasikan dgn ilmu pengetahuan yg sejatinya sejalan dgn ‘Islam sbg agama pembaharu’. Dan metode ini pun tdk mengedapankan ‘ketepatan’ tapi lebih merelasikan dgn konteks sekarang dan ilmu pengetahuan.

    Oke.. Brarti saya yg salah menangkap esensi dari postingan ini. Maka menurut saya, anda berpendapat bahwa ini lebih pada masalah menghormati orang yg masih berpuasa krn lebaran tgl 13.10.07 dan mengindari suudzon. Dan jikalau pemerintah menggunakan metode hisab, anda pun akan mengikutinya dgn pertimbangan2 diatas + bentuk ketaatan tdh pemerintah. Sepakat!

    Satu hikmah lagi dlm Islam ini, dan ini juga kaidah umum. Bentuk ketaatan kita thd Rasululloh adl beragama dg agama yg dijalankan Rasululloh

  14. HIlman Oktober 14, 2007 pukul 3:12 p

    ass.
    gimana, kayaknya perlu ada ruang diskusi yang lebih lanjut nih, apalagi permasalahan penetapan 1 ramadhan dan 1 syawal,
    tapi, kalaulah ternyata tidak bisa juga dipertemukan, biarkan saja, sepanjang masih ada dalil, yang shahih melandasinya,
    lagian baik muhammadiyah, nu, maupun lembaga lainnya yang mempunyai majelis tarjih, fatwa dan sejenisnya, tentunya mereka mempunyai dalil yang kuat,
    posting ini cukup ‘menjelaskan’, coba kalau ada orang dari muhammadiyah yang mereply dengan serangkaian alasan, mungkin akan lebih menarik,
    finally, saya cuma berharap perbedaan ini tidak menyebabkan kita sebagai saudara seakidah terpecah, hindari untuk menjudge seseorang salah, hanya karena mereka tidak sesuai dengan rujukan kita apalagi cuma beda penafsiran dari dalil yang sama,
    wassalam

    Wa’alaikumussalam, seharusnya kita jangan menutup diri dari yang namanya “berubah ke arah lebih baik”. Saya dulu juga aktivis Muhammadiyah dan sempat tahu orang2 yg menyusun tarjih Muhammadiyah dan membaca beberapa “Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah”, diantaranya yg saya cermati juga adl masalah bunga bank. Pada himpunan putusan tarjih generasi awal, organisasi ini tegas bahwa haram hukumnya bunga bank dan akhirnya pada himpunan putusan tarjih yg sekarang ada beberapa perincian.

  15. AdhiRock Oktober 13, 2007 pukul 3:12 p

    humu li ru’yatihi, wa aftiru li ru’yatihi.

    Mulailah puasa Ramadan dengan melihat bulan sabit (hilal). Dan akhiri bulan Ramadan (yang berarti awal Lebaran) dengan melihat hilal.

    Disinilah terjadi perbedaan penafsiran: yang satu kontekstual dgn mengedepankan ilmu pengetahuan dan satu-nya lagi tekstual.

    Pertama, kata “ru’yah” (Arab, melihat) di Hadits tsb sebagai bermakna “melihat dengan ilmu” konsekuensinya, dgn memakai ilmu hisab/ilmu falak untuk menentukan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal. (kontekstual)

    Kedua, memahami kata “ru’yah” secara harfiah yang berarti “melihat bulan sabit dengan mata telanjang” Apabila bulan sabit/hilal tidak terlihat pada malam ke-29, maka puasa disempurnakan menjadi 30 hari seperti yang terjadi pada Ramadan 2007 / 1428H ini. (tekstual)

    Mana yang lebih benar? to be honest with U saya tdk berani melakukan justifikasi.. saya berpendapat dua2-nya adl benar, tdk jadi soal. Yang menjadi permasalahan adl munculnya sebuah golongan yang menjustifikasi metode yg digunakan paling benar dan menyalahkan metode yg lain tanpa terlebih dahulu membuka pintu ijtihad.

    Kekolotan seperti inilah yg sejatinya membuat Islam lari dari kemajuan dan mundur kebelakang. Dan jauh dari spirit of Islam; Islam sbg agama pembebas, Islam sbg agama pembaharu. Harus dibuka pintu ijtihad selebar-lebarnya, penafsiran harus bersahabat dgn perkembangan jaman, harus memerdekaan akal tanpa mengkhianati roh dari Al-Quran dan Sunnah, jgn semata-mata tekstual dan menutup diri dgn kontekstual.

    Kalau mau kita perdalam lagi, sesungguhnya Islam itu mudah jangan dipersulit, “lihat…!, jika tertutup awan maka genapkan 30 hari.” Kenapa Rasululloh tdk menggunakan bantuan malaikat utk melihat bulan? Jikalau kita pahami bukanlah ketepatan dlm menentukan syawal tapi bagaimana kita sebagai ummat-nya utk dengar dan taat. Sebagai penutup sebagaimana artikel ttg berlebaran bersama pemerintah bisa kita simpulkan: Lebaran adl hari raya (hari org banyak), ketika tetangga kita masih berpuasa kemudian kita sdh berlebaran tentu akan menimbulkan kecumburuan scr tdk langsung. Jikalau pemerintah menggunakan metode hisab, maka Insya Allah saya akan tetap berlebaran bersama. Ini adalah bentuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bentuk taat kita thd pemerintah muslim.

  16. Heri Setiawan Oktober 12, 2007 pukul 3:12 p

    menurut syaikh utsaimin, pada zaman dulupun meluhat hilal dengan menggunakan teropong sederhana dengan naik di atas menara, tapi tetap saja menggunakan sistem ru’yatul hilal.

    saya setuju dengan sohibul himam, perbedaan hisab pemerintah dan muhammadiyah adalah masalah derajat… dan muhammadiyah tidak memenuhi standar hisab, begitu yang saya dapatkan dari ustadz…

  17. mahatmaindovision Oktober 12, 2007 pukul 3:12 p

    iya ah … kenapa norak pula sih nasehati muhamadiyah … biarpun aku bukan pro mereka … tapi kalo mo nasehatin mbok gak usah dipublikasikan begini ! norak abis ! norak abis ! khan jadi mancing komentar negatif aja sih kamu !

  18. hyorinmaru Oktober 11, 2007 pukul 3:12 p

    Mmm, pingin komentar banyak tapi budget udah limit, maklum masih nebeng ma ortu… ;-)
    Btw, please, jika mengutip berita, sertakan link-nya…
    Ya ya… benar; saya bisa googling, tapi mbok ya mmpermudah pengunjung. Kutipan dari detik (dan yang lainnya, apa aja deh) koq ga ada link-nya… Saya khan pingin baca juga…
    Kedua, font arab ga jelas di browser saya, ntah apa yang salah ma Firefox ini, atau OSnya? Saya udah pake Windows lho… Ya masih untung, coba saya pake Linux, jangan-jangan malah ga tampil apa pun di bagian teks arab tsb…
    Saya lebih menghargai image ato “file gambar”; ini bukannya kenapa, cuma kalo image, ga trpengaruh soal browser & font di OS. Tntunya harus dari mode grafis… ;-)
    Jazaakallah…

    link-nya:
    http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/06/time/113111/idnews/826421/idkanal/10
    Terima kasih buat masukannya. Ada lagi tambahannya, catatan kaki buat hadits (takhrij)

  19. abu zahra Oktober 11, 2007 pukul 3:12 p

    إِذَا رَأَيْمُوْهُ فَصُوْمُوهُ وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

    “Jika kalian melihatnya maka puasalah kalian dan jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian, tapi jika kalian tertutupi awan maka tentukanlah (menjadi 30).” (Shahih, HR. Al-Bukhari no.1900 dan Muslim no. 2501)
    Inilah tuntunan Islam. Tuntunan yang demikian mudah, pasti, dan membawa banyak maslahat. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad n. Nabi mengatakan demikian ketika ilmu hisab dan falak telah ada dan dipakai oleh masyarakat Romawi, Persia bahkan Arab.
    Namun Nabi n tidak mengikuti mereka. Bahkan beliau menerima sepenuhnya ketentuan Allah n bahwa untuk menentukan awal bulan adalah dengan ru’yatul hilal (melihat hilal).

  20. gimbal Oktober 11, 2007 pukul 3:12 p

    Saya lahir dari keluarga Muhammadiyah dan besar di lingkungan NU, namun sejauh saya hidup di lingkungan saya masing2 baik Muhammadiyah dan NU saling menghargai metode yang dipakai. Dan yg lebih salute tdk ada statement “pembenaran diri” baik yg Muhammadiyah maupun yg NU. Semuanya harmonis dan menghargai perbedaan. Sama hal-nya dgn rakaat sholat tarawih antara Muhammadiyah dan NU, tidak ada permasalahan, masing2 saling menghargai. Para ulama dikampung saya baik yang NU maupun Muhammadiyah lebih tertarik berdiskusi, berjibaku dan berdebat masalah2 sosial seperti: kemiskinan, pengangguran, pemberdayaan UKM, korupsi daripada memper-debatkan masalah perbedaan hari raya, gimana hukumnya orang berpuasa yg menggosok gigi.

    Dan postingan ini menambah deretan jumlah orang2 yg merasa “suci”, merasa lebih dekat dgn Allah SWT, menganggap dirinya paling benar apalagi judul diatas sangat provokatif. Muhammadiyah adl organisasi yg telah berumur hampir satu abad, berdiri tahun 1912, organisasi terbesar ke-2 setelah NU, jadi tentunya mereka telah mempertimbangkan semuanya.

    Sama dengan mas saya juga lahir di keluarga Muhammadiyah, bahkan orang tua saya termasuk ketua ranting sampai sekarang. Alhamdulillah orang tua memilih untuk berlebaran bersama pemerintah. Semakin berakhirnya zaman semakin orang jauh dari ilmu, ketika kita membahas sebuah perkara dlm Islam orang menganggap hal yg tabu, sok suci, dan lain-lain. Padahal jika kita lihat sejarah para Ulama (Imam Syafi’i. Imam Ahmad) mereka mendiskusikan segala masalah agama dengan bijak tanpa taklid. Inilah yg menggeser paradigma kita ttg mengkaji agama.

  21. sohibul himam Oktober 11, 2007 pukul 3:12 p

    menurut saya yang membedakan adalah antara wujudul hilal dan rukyatul hilal. kalau orang Muhammaddiyh beranggapan pokoknya bulan itu tampak maka sudah hari raya. sedangkan pemerintah mempunyai pendapat sebelum hilal itu sampai 3 derajat di atas ufuk maka belum hari raya. jadi perbedaanya cuma derajatnya saja

  22. zoel Oktober 11, 2007 pukul 3:12 p

    buat rovicky, koq standar ganda gitu yah? hehe.. tp gpp itu pendapat Anda, sy hargai, kalo saya sendiri lebih suka komentarnya zozon… islam kan “plural”, jgnkan d Arab, di Indonesia apalagi… saya berada di lingkugan muhammadiyah, meskipun msh awam masalah ini, tp logika penetapan 1 syawal versi muhammadiyah bisa diterima, kalopun ada perbedaan dgn yg lain, so what? sma2 ada hadistnya.. kenapa mesti takut berbeda? dari dulu org Indonesia juga terdiri dari ratusan suku & budaya tapi kita ttp hidup dalam perbedaan itu, pelangi kalau cuma berwarna merah tidak akan seindah pelangi yg warna-warni, masakan yg anda makan kalau cuma nasi juga akan hambar kalau tidak diberi bumbu & sayur yg beda-beda, gimana? (hehe… udah bayangin ketupat & opor ayam nih besok jumat :) wasalam… Minal Aidin wal Faidzin, Maaf Lahir Bathin

  23. Rovicky Oktober 10, 2007 pukul 3:12 p

    Kalimat ini kurang sempurna

    Sesungguhnya keberagaman adalah rahmat

    Yang lebih baik barangkali “Di dalam keberagaman itu ada rahmat, sedangkan di dalam keseragaman itu lebih nikmat
    Artinya kita harus tetap lebih menghargai dan mengarah ke-keseragaman. Jangan hanya menghibur diri ketika masih beragam dengan adanya hikmah.

  24. Pingback: NASEHAT UNTUK ORGANISASI MUHAMMADIYYAH (PENETAPAN LEBARAN) « WEBSITE Ahl Al-Sonnah Wa Al-Jama’ah According To Salaf Al-Sholeh

  25. Imam Mawardi Oktober 10, 2007 pukul 3:12 p

    Terimalah nasehat yang menggunakan dasar hadist yang kuat ini. Kenapa takut?

  26. nnay Oktober 10, 2007 pukul 3:12 p

    dalam kasus yang lain, saya ambil contoh begini:
    untuk menentukan waktu sholat, apakah kita harus melihat dahulu pergerakan matahari?
    terus juga, mengapa kita sudah bisa menentukan waktu sholat untuk satu tahun ke depan?

    Kembali ke hukum asalnya bahwa waktu sholat adalah ditentukan dengan pergerakan matahari. Adapun penunjuk waktu (jam) hanya digunakan sebagai alat bantu memperkirakan. Sebagaimana hadits yg menyebutkan seorang sahabat bertanya kpd Rasululloh ttg waktu sholat di daerah yg selalu siang atau selalu malam (kutub), maka Rasululloh memerintahkan utk memperkirakan waktu-nya. Adapun utk penetapan syawal Rasululloh memerintahkan utk menggenapkan 30 hari.

  27. zozon Oktober 10, 2007 pukul 3:12 p

    Sesungguhnya keberagaman adalah rahmat…karena kedua2xnya mempunyai dalil yang kuat….wallahu’alam….

    Hadits tentang keberagaman adalah rahmat itu dloif (ada rawi yg bernama Juwaibir, dia sangat lemah). Justru Alloh memerintah kita utk jangan berpecah belah.

  28. M Shodiq Mustika Oktober 10, 2007 pukul 3:12 p

    “Pembaca yang budiman, mari kita bandingkan pernyataan ini dengan keterangan [hadits] dan penjelasan berikut : ………”

    Dalam pandangan kami, kurang adil membandingkan hasil wawancara untuk publik (yang tidak dilengkapi dengan hujjah “ilmiah”) dengan hadits dan penjelasan Anda yang “ilmiah” itu. Yang lebih adil adalah membandingkannya dengan hujjah Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah yang juga “ilmiah”.

    Lihat, antara lain,
    http://media.isnet.org/isnet/Djamal/konsepsi.html dan
    http://www.eramuslim.com/berita/nas/7111130206-muhammadiyah-dan-qaradhawi-sepakat-dengan-penentuan-metode-hisab.htm?rel

  29. probo hindarto Oktober 10, 2007 pukul 3:12 p

    Hmmm… kiranya apa ada 2 idul fitri lagi ya…??
    Klo saya lebih condong ke pemerintah bilang apa…

  30. muwahiid Oktober 9, 2007 pukul 3:12 p

    Assalamu’alaikum

    Barakallahu fiyka

  31. wida Oktober 9, 2007 pukul 3:12 p

    >>>Hanya Allah Yg maha tahu…dasar rujukan apa yg dipakai oleh muhammadiyah atau oleh anda

    >>>saya seorang muslim yang awam tapi berusaha menjadi seorang muslim yang kaffah,saya tidak mempelajari islam sampai ke saudi arabia seperti anda tapi saya berusaha menjalankan islam sesuai dengan alquran dan sunnah(tentu saja yang shahih)
    yang saya tahu agama islam tidak berpikir kerdil dan mengikuti kemajuan jaman

    kalau memang pada jaman rasullullah br bisa melihat bulan dengan mata telanjang apa iya jaman sekarang dimana ada teropong bintang yang bisa membantu kita melihat dengan jelas posisi bulan tidak dipergunakan dan berskeras menggunakan mata telanjang???

    >>>beliau adalah seorang yang ummi tidak bisa membaca tapi beliau menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu sampai ke negri china(tandanya beliau menghargai ilmu pengetahuan)

    >>>setahu saya bila saudi ber idhul fitri maka di indonesia yang berada dibelahan timur juga merayakannya,bukan ditunda seperti yang dulu2 dilakukan oleh pemerintah indonesia,dan apabila ada yang sudah merayakan hari raya maka haram hukumnya untuk berpuasa ramadhan.bukankah sumber agama islam itu adalah alquran,assunah dan ijtihad ulama (bukan pemerintah)

    >>>Selamat Idhul Fitri, Mohon Maaf lahir batin

    Wallahu a’lam, hadits menuntut ilmu sampai ke negeri Cina itu dlo’if. Lihat pembahasan lengkapnya disini
    Bukannya kebalik mas, semakin barat Hilal-nya semakin wujud……???
    Tentang Lebaran Bersama Pemerintah akan datang artikel-nya, lihat disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: