mumtazanas.wordpress.com

antivirus, freeware, tips dan trik, seo, advertising

Ziarah Kubur kok Dibilang Syirik???


bismillah.jpg

ziarah-kubur.jpgMungkin itu kata-kata yang akan terlontar dari seseorang yang belum paham jika diingatkan tentang bahaya ziarah kubur.

Di Indonesia fenomena ziarah kubur banyak kita jumpai, sebut saja makam para Wali Songo, sebagai menyebarkan agama Islam di Indonesia, tidak pernah sepi dari para peziarah. Tapi disisi lain ada yang menyebutkan bahwa kegiatan ini termasuk syirik. Nah loh, oleh karena hal itu kita pelajari bersama-sama secara mendalam. Kenapa? karena syirik kita sepakati adalah dosa yang paling besar (seperti tersebut dalam AlQuran dan Hadits), lebih besar daripada membunuh.

Kuburan merupakan salah satu ajang kekufuran dan kesyirikan di masa jahiliyah. Terbukti hal yang demikian dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَفَرَأَيْتُمُ الاَّتَ وَالْعُزَّى وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ اْلأُخْرَى أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ اْلأُنْثَى تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزَى

“Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-’Uzza dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah patut untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah anak perempuan. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (An-Najm: 19-22)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mencerca kaum musyrikin dengan peribadatan mereka kepada patung-patung, tandingan-tandingan bagi Allah dan berhala-berhala, di mana mereka memberikan rumah-rumah untuk menyaingi Ka’bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata”. Al-Lata adalah sebutan untuk batu yang terukir di mana di atasnya dibangun rumah dan berada di kota Thaif. Ia memiliki kelambu dan juru kunci dan di sekitarnya terdapat halaman yang diagungkan oleh penduduk Thaif, yaitu kabilah Tsaqif dan yang mengikuti mereka. Mereka berbangga-bangga dengannya di hadapan seluruh kabilah Arab kecuali Quraisy.”

Kemudian beliau berkata: “Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Mujahid, Rabi’ bin Anas mereka membaca (الاَّتَ) dengan ditasydidkan taa (تَّ) dan mereka menafsirkannya dengan: “Seseorang yang mengadoni gandum untuk para jamaah haji di masa jahiliyyah. Tatkala dia meninggal, mereka i’tikaf di kuburannya lalu menyembahnya.”

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan: Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata tentang firman Allah “Al-Latta dan Al-’Uzza.”: “Al-Latta adalah seseorang yang menjadikan gandum untuk para jamaah haji.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/35, lihat Tafsir Al-Qurthubi, 9/66, Ighatsatul Lahfan, 1/184)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Al-Latta dengan bacaan ditasydidkan huruf taa adalah bacaan Ibnu ‘Abbas berdasarkan bacaan ini berarti isim fa’il (bentuk subyek) dari kata ‘latta’ (yang berbentuk) patung, ini asalnya adalah seseorang yang mengadoni tepung untuk para jamaah haji yang dicampur dengan minyak samin lalu dimakan oleh para jamaah haji. Tatkala dia mati, orang-orang i’tikaf di kuburnya lalu mereka menjadikannya sebagai berhala.” (Qaulul Mufid, 1/253)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Termasuk dari tipu daya setan yang telah menimpa mayoritas orang sehingga tidak ada seorangpun yang selamat-kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah- yaitu “Apa-apa yang telah dibisikkan para setan kepada wali-walinya berupa fitnah kuburan.” (Ighatsatul Lahfan, 1/182)

Yang mengawali terjadinya fitnah besar ini adalah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagaimana telah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang mereka:

قَالَ نُوْحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوْا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلاَّ خَسَارًا وَمَكَرُوْا مَكْرًا كُبَّارًا وَقَالُوْا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوْثَ وَيَعًوْقَ وَنَسْرًا وَقَدْ أَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَلاَ تَزِدِ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ ضَلاَلاً

“Nuh berkata: Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar. Dan mereka berkata jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Yauq dan Nasr. Dan sesungguhnya mereka menyesatkan kebanyakan manusia. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh: 21-24)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam riwayat Al-Bukhari menyatakan: “Mereka adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Ketika orang-orang shalih itu mati, tampillah setan menyampaikan kepada orang-orang agar mendirikan di majelis-majelis mereka gambar orang-orang shalih tersebut dan namakanlah dengan nama-nama mereka! Orang-orang pun melakukan hal tersebut dan belum disembah, sampai ketika mereka meninggal dan ilmu semakin dilupakan, maka gambar-gambar itu pun disembah.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan: “Bukan hanya satu ulama salaf yang mengatakan: ‘Mereka adalah orang-orang shalih dari kaum Nuh. Tatkala mereka meninggal, orang-orang i’tikaf di kubur-kubur mereka lalu membuat patung-patung tersebut hingga masa yang sangat panjang, lalu menjadi sesembahan.” Kemudian beliau mengatakan: “Mereka telah menghimpun dua fitnah yaitu fitnah kubur dan fitnah menggambar.” (Ighatsatul Lahfan, 1/184)

Loh kok disamain sih, kan orang zaman dahulu menyembah patung, itu jelas-jelas perbuatan syirik?

Sisi persamaan disini pada pengagungan yang berlebihan terhadap orang yang sholeh. Awalnya mereka para orang shalih tidak disembah. Seperti juga keadaan makam-makam yang dianggap keramat, bermacam-macam tanggapan orang. Ada yang hanya digunakan sebagai tempat berdoa kepada Allah, mencari barokah, mencari petunjuk, mensucikan pusaka, selamatan, dan banyak yang lainnya. Coba kita cermati dan renungkan.

Kan di kuburan kita tidak beribadah kepada kuburan itu, hanya berdoa kepada Allah.

Mari kita baca hadits-hadits berikut ini:

Hadits Abu Martsad Al Ghanawi, Rasulullah bersabda:


لاَتُصَلُّوا إِلَى الْقُبُور

“Janganlah kalian shalat menghadap ke kubur.” (HR. Muslim)

Hadits Anas bin Malik :

أَنَّ النَّبِيَّ نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَيْنَ الْقُبُورِ

“Sesungguhnya Nabi Muhammad melarang shalat diantara kuburan-kuburan.” (HR. Al Bazzar no. 441, Ath Thabrani di Al Ausath 1/280)

Hadits Abu Sa’id Al Khudri

الأََرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Bumi dan seluruhnya adalah masjid kecuali kuburan dan kamar mandi.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah)

 

لاَتَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan dan jangan pula kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat yang selalu dikunjungi. Karena di manapun kalian bershalawat untukku, akan sampai kepadaku.” (HR. Abu Dawud)

Dan jenis perbuatan inipun juga masuk dalam larangan sabda Rasulullah :

 

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashara karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari, 3/156, Muslim, 2/67 dan lainnya)

Karena makna menjadikan kuburan sebagai masjid mencakup membangun masjid di atas kuburan dan juga mencakup menjadikan kuburan sebagai tempat sujud (ibadah) ataupun berdo’a walaupun tidak ada bangunan di atasnya. Kecuali berdo’a untuk si mayit, karena inilah yang dianjurkan dalam agama. (Lihat Ahkamul Jana’iz hal. 279 karya Asy Syaikh Al Albani dan Al Qaulul Mufid 1/396)

Ketika berdoa di kuburan, kami hanya menjadikan para wali sebagai perantara (tawasul) kepada Allah.

Jika perbuatan ini benar, niscaya tidak akan ditinggal oleh para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kuburan imam para Rasul yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tentu akan berlomba-lomba untuk melakukannya dan tentu akan teriwayatkan dari mereka setelah itu. Berdasarkan sisi ini jelas bahwa perbuatan ini diada-adakan, termasuk perkara baru dan merupakan satu kebid’ahan di dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

 

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُناَ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka dia tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha).

Loh ada syariat Rasulullah untuk berziarah kubur…!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ ، فَزُوْرُوْهَا لِتَذْكِرِكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْراً

“Dahulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, (kini) berziarahlah, agar ziarah kubur itu mengingatkanmu berbuat kebajikan.” (HR. Ahmad, hadits sahih)

“Ziarahilah kuburan karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada kematian.”(Muslim)

Memang benar bahwasanya Rasulullah mensyariatkan untuk ziarah kubur, tapi dari hadits-hadits diatas kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan dari ziarah kubur adalah mengingatkan kepada kematian, mendoakan si mayit, dan amalan sunnah lainnya. Bukan untuk sholat, membaca AlQuran, berdoa untuk dirinya dengan perantara si mayit, menabur bunga, memberikan sesaji, dan hal-hal yang dilarang lainnya.

Aku (‘Aisyah) berkata : “Apa yang harus aku ucapkan kepada mereka (penghuni kuburan) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Katakanlah : Semoga keselamatan tercurah bagi para penghuni kuburan ini dari kalangan Mukminin dan Muslimin. Dan semoga Allah merahmati orang yang terdahulu dan orang yang belakangan dari kita. Dan kami Insya Allah akan menyusul kalian.” (HR. Muslim, An Nasa’i, Abdurrazzaq, dan Ahmad)

لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ وَ لاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا

“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula duduk di atasnya.” (HR. Muslim)

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan tha’waf di sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah, Ka’bah).” (AI-Hajj: 29). Tidak thawaf di kuburan.

لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تـُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

“Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (١٠٦)

“Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: l06)

(Orang-orang yang zhalim adalah musyrikin).

Dilarang membangun di atas kuburan atau menulis sesuatu dari Al-Quran atau syair di atasnya. Sebab hal itu dilarang,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, 3/62, Ibnu Abi Syaibah 4/134, At-Tirmidzi 2/155, dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, 3/339 dan 399).

Cukup meletakkan sebuah batu setinggi satu jengkal, untuk menandai kuburan. Dan itu sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika meletakkan sebuah batu di atas kubur Utsman bin Mazh’un, lantas beliau bersabda,

أَتَعَلـَّمُ عَلَى قَبْرِ أَخِيْ

“Aku memberikan tanda di atas kubur saudaraku.” (HR. Abu Daud, dengan sanad hasan).

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (HR. Al-Bukhari, 3/156, 198 dan 8/114, Muslim, 2/67, Abu ‘Awanah, 1/399, Ahmad, 6/80, 121, 255 dan lainnya)

Kalau begitu kafir dong yang suka ziarah di makam-makam wali dan tempatnya di neraka.

Eits…, tunggu dulu. Untuk menghukumi seseorang secara khusus kafir butuh tahapan dan tidak asal dia melakukan perbuatan kekafiran langsung dicap kafir, siapa yang melakukan bid’ah dicap ahlul bid’ah. Harus diteliti terlebih dahulu apakah pelakunya sudah diingatkan atau belum.
Terlebih lagi masalah neraka dan syorga ini adalah rahasia Allah, bahkan kepada orang non-Islam yang masih hidup kita tidak boleh berkata “kamu masuk neraka!”, karena bisa saja di akhir hidupnya dia bertaubat dan diampuni dosa-dosanya oleh Allah.

sumber: berbagai sumber
https://mumtazanas.wordpress.com


11 responses to “Ziarah Kubur kok Dibilang Syirik???

  1. Pingback: Ziarah Kubur Kok Dibilang Syirik !! | Abu Zahra Hanifa

  2. Pingback: Ziarah Kubur Koq Dibilang “SYIRIK!” Ada-ada saja « "Bisa Karena Terbiasa"

  3. Pingback: Ziarah Kubur Koq Dibilang “SYIRIK!” « "Bisa Karena Terbiasa"

  4. Abdulloh Maret 19, 2008 pukul 3:12 p

    “OBAT BATUK KOK DIPAKAI UNTUK NYEMBUHIN SAKIT PERUT…. YA JADI NAMBAH DONK MENCRETNYA”

    Di kkhir jaman ini, khususnya di Indonesia “Negri tercinta, Negri termalang” emang lg krisis multy dimensi, krisis (ekonomi, moneter, sembako, moral, ahlak & aqidah dll)

    Banyak Maling teriak maling, so’ jadi polisi dunia, so’ suci, so’ paling Ahli Sunnah wl Jama’ah, so’ paling ahli jannah yg laen ahli dolalah/nar! dengan seabreg dalil Qur’an & Hadits tp dipake bukan pd tempatnya, memutar-balikan fakta yg ada!….. Emang jaman sudah kacau-beliaw…. :(

    SubhanaLloh LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAHH…

    Yaa Robb kami mohon perlindungan dari “fitnah zaman” selamatkan kami khususnya yg menulis komentar & yg mnulis posting artikl ini, dari kesalahan pemahaman Agama…

    Yaa Robb, tunjukan kpd kami yang haq adalah haq dan beri kekuatan kpd kami untuk bisa dengan ikhlas menjalankannya, dan tunjukan kpd kami bahwa yang batil itu adalah batil, dan berikan kekuatan kpd kami untuk bisa menjauhinya sejauh-jauhnya. Karuniakan kpd kami khusnul khotimah!

    Aamiiin….!

  5. Imam Mawardi Desember 11, 2007 pukul 3:12 p

    saya suka ziarah kubur, karena itu tuntunan dari Rasulullah

    Betul, ziarah kubur ke orang tua kita atau berziarah di makam dengan tempat tinggal kita untuk mengingat mati

  6. sandynata Desember 7, 2007 pukul 3:12 p

    penjelasannya saya rasa cukup bagus, namun saya lihat beberapa komentator masih kurang paham (tidak dibaca keseluruhan) dengan isi tulisan ini sehingga beberapa komen sepertinya masih mempertanyakan hal2 yang sudah dijelaskan di dalam artikel di atas

  7. Nuril & Nurila Desember 5, 2007 pukul 3:12 p

    Memang ada beberapa pendapat berbeda tentang ziarah kubur… ada yang bilang boleh dan tidak… tapi sebaiknya kita kembalikan kepada pemahaman dan niat kita masing… ada pemahaman yang mengatakan bahwa ziarah kubur akan mengingatkan kita akan kematian, kita semua akan mati dan dikubur…

  8. godong Desember 4, 2007 pukul 3:12 p

    Semuanya tergantung ama niatnya…..perbuatan baik apapun kalau niatnya ngga’ baik jadi syirik juga. Jangankan Ziarah…..piara burung perkututpun juga jadi syirik kalau niatnya ngga’ bener :)

    Bukan hanya niatnya saja tapi perbuatannya juga, jika perbuatan jelek dan niat baik tetap tdk bisa dibenarkan. Menyengaja ziarah ke makam para wali/orang sholeh tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Betapa banyak kerusakan yang kita lihat di Indonesia, makam para wali dikeramatkan, sesaji, upacara adat, kuburan di letakkan di dalam masjid…., kemudian kita hanya berkata kan tergantung niatnya,…..ingatlah syirik itu lebih keji dari membunuh,….apakah kita hanya bisa diam?…..dimana perbuatan nahi munkar kita?…..takutlah atas azab Allah yg tdk hanya menimpa orang dlolim. Perumpamaannya adalah ketika kita dalam satu kapal…., kita melihat salah satu penumpang melubangi kapal utk mengambil air minum, apakah kita akan diam? jika kita diam maka kita akan tenggelam.

  9. khantiii2 Desember 4, 2007 pukul 3:12 p

    Saya tidak setuju jika ziarah kubur dibilang syirik, menurut saya tinggal bagaimana tujuan seseorang berziarah kubur. jika tujuannya untuk memohon sesuatu kepada si mayit, dengan memberi sesajen atau sampai bermalam di makam agar bisa ditemui ahli kubur itu, maka itu yang dianamakan syirik, tapi bila tujunnya untuk mendo’akan si mayat, atau wasilah lewat perantara do’a itu,, tetapi memintanya hanya kepada Allah. saya rasa gpa2….

    Memang betul seperti yang anda katakan, ziarah kubur tergantung tujuannya bisa jadi berpahala dan bisa jadi berdosa. Adapun yang dipaparkan adalah berziarah di makam para wali yang dimuliakan, fakta di Indonesia: kuburan yang dibangun (bukankan ini dilarang?), bercampur dengan orang yang melakukan kesyirikan. Berdoa utk si mayit bisa dimana saja, jika dikhawatirkan banyak madlorot ditinggalkan

  10. Sehat Desember 3, 2007 pukul 3:12 p

    Anda katakan: “Sisi persamaan disini pada pengagungan yang berlebihan terhadap orang yang sholeh”.
    Saya: “Apakah tolok ukur syirik hanya pada pengagungan yang berlebihan? Atau apakah pengagungan secara berlebihan adalah satu-satunya ciri kesyirikan? Lantas dimanakah batasan yang pasti pengagungan yang berlebihan itu? Mana bukti dalilnya (al-Quran-hadis) yang menyebutkan bahwa berlebihan dalam mengagungkan adalah tolok ukur syirik”

    Anda menukil hadis: “Janganlah kalian shalat menghadap ke kubur.” (HR. Muslim) dan menjadikannya dalil sebagai pelarangan berdoa di kuburan
    Saya: Hadis itu tidak tepat untuk membuktikan pelarangan berdoa dan shalat di sisi kuburan. Karena hadis itu menjelaskan tentang pelarangan kuburan sebagai kiblat yang disembah. Jelas ini beda kasusnya dengan kaum muslimin yang berdoa di sisi kuburan. Lantas bagaimana pendapat anda tentang hadis yang Muhibbuddin at-Thabari pun dalam kitab-nya yang berjudul ar-Riyadh an-Nadhirah jilid 2 halaman 330 menyebutkan bahwa; suatu saat, ketika Umar bin Khatab (Khalifah kedua Ahlusunah) bersama beberapa sahabatnya pergi untuk melaksanakan ibadah haji di tengah jalan ia berjumpa dengan seorang tua yang meminta tolong kepadanya. Sepulang dari haji kembali ia melewati tempat dimana orang tua itu tinggal dan menanyakan keadaan orang tua tadi. Penduduk daerah itu mengatakan: “Ia telah meninggal dunia”. Perawi berkata: “Kulihat Umar bergegas menuju kuburan orang tua itu dan di sana ia melakukan shalat. Kemudian dipeluknya kuburan itu sambil menangis”. Apakah khalifah Umar juga melakukan syirik karena shalat dan berdoa di sisi kuburan si kakek tua yang telah tiada itu? Berani anda mengatakan beliau berbuat syirik?

    Silahkan renungkan, walau anda tidak berkenan untuk memoderasi tanggapan ini. Itu hak anda.

    Wallahu a’lam dg hadits yg dibawakan oleh anda, tapi saya juga pernah baca yg semisalnya bahkan dilakukan oleh Rasulullah. Tapi yg dijadikan sisi pendalilan adalah yang dilakukan Rasulullah adalah sholat jenazah (demikian juga hadits yg saudara bawakan). Berdoa utk si mayit juga boleh, dan ini yg dianjurkan mendoakan keselamatan, diberikan pengampunan. Bukan seperti keadaan kebanyakan orang2 sekarang, berdoa dg perantara si Mayit, melakukan sholat tapi bukan sholat jenazah.
    Kenapa kita tdk berdoa di masjid atau tempat lain?, hal ini tentu karena ada keyakinan berdoa disisi kuburan ini lebih mustajab, nah ini yang dilarang. Bagaimana dg hadits ini:
    “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan dan jangan pula kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat yang selalu dikunjungi. Karena di manapun kalian bershalawat untukku, akan sampai kepadaku.” (HR. Abu Dawud)

  11. A1B2C3 Desember 3, 2007 pukul 3:12 p

    Assalamualaikum
    saya kok pernah dengar ada orang ziarah dapat keris/ilmu tertentu. itu apa yaa??.

    Wa’alaikumussalam
    Itu termasuk syirik. Meminta bantuan kpd selain Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: