mumtazanas.wordpress.com

antivirus, freeware, tips dan trik, seo, advertising

Blog Pendengki Blog


bismillah.jpg

avatar_1
Waktu coba telusuri di google menggunakan kata kunci mumtazanas perhatian saya tertuju pada sebuah blog syiah punya bapak Muhsin Labib, seorang pengarang buku-buku Syiah. Dia mereview salah satu postingan saya. Dia menggunakan judul Blog Pendengki Blog.

Akhirnya kepancing juga untuk memberikan komentar:

Assalamu’alaikum,
Ini kunjungan dari ‘yang dituduh’
Artikel-nya menarik juga, sedikit klarifikasi,
1. Artikel tsb tdk saya hapus, kecuali ada hacker yang menghapusnya. Silahkan cek disini:
https://mumtazanas.wordpress.com/2007/09/07/syiah-hati-hati-konspirasi-didalam-blog/
2. Darimana analisa bapak klo saya memalsu data statisitik saya?
3. Serangan baliknya telat pak, saya bikinnya bulan September, bapak nulis ini baru bulan November.
4. Atau mungkin judulnya ini sesuai dg blog bapak

Tapi sayangnya komentar saya dimoderasi sama beliau dan tidak ditampilkan kemudian dia membalasnya lewat email:

Sengaja saya men-japri- anda via email karena saya tidak
ingin blog sy menjadi ajang tarik-menarik soal isu
perselisihan mazhab.

Mas Anas, pertama, saya mohon maaf bila ternyata dugaan
saya tentang pemalsuan statistik pengunjung di blog ana.
Kedua, mungkin tanggapan saya terlambat, tapi saya tetap
saja saya menganggap blog anda sebagai penebar kebenacian
antar sesama muslim. Ketiga, saya mohon anda untuk lebih
memusatkan perhatian kepada musuh-musuh Islam ketimbang
menganggap sesat muslim yang berbeda pandangan dengan
anda. Syiah itu berhaji bahkan jumlahnya jamaahnya sangat
besar. Yang melawan Israel dan mebgusirnya dari Libanon
itu bermazhab Syiah. Satu-satunya negara yang memberikan
dukungan finansial dan lainnya kepada Hamas adalah Iran,
negara yang berpenduduk mayoritas Syiah. Keempat, utamakan
dialog secara ilmiah ketimbang dugaan-dugaan. Tindakan
anda menakut-nakuti dan mengajak orang untuk memusuhi
sesama muslim itu tidak efektif. Setiap orang di era
informasi ini bisa mengakses sumber-sumber orisinal Syiah.
Hematlah energi untuk melakukan sesuatu yang lebih
bermanfaat buat agama kita, Islam.

Sekali lagi mohon maaf.

Bukannya saya tidak mau menerima maaf, tapi kok postingannya masih bercokol?

Latar belakang saya menulis postingan tentang Syiah, karena penghinaan terhadap Islam; Mencela para Sahabat (Abu Bakar, Abu Hurairah, dll), mencela para ahlul hadits (Imam Bukhori), mencela para ulama: Syaikh Islam Ibnu Taimiyah guru Ibnu Katsir, dan masih banyak yang lainnya.


33 responses to “Blog Pendengki Blog

  1. pak Muh September 16, 2008 pukul 3:12 p

    lagi-lagi syiah…
    keyakinan batil dengan berlandaskan kebencian kepada para sahabat …

    modal apa mereka sehingga berani mengatakan kedustaan atas para sahabat Rasulullah? bahkan yang Ali radiallahuanhu sendiri tidak mengatakan perkataan semacam itu..? dan tidak pula memegangi keyakinan seperti itu..?

    betapa mereka berkelit untuk untuk ‘saling menjaga hak sesama muslim’ katanya, tetapi terhadap para sahabat, yang telah mendapat rekomendasi dari Rasulullah sendiri (bahkan disebut-sebut dalam Kitabullah ..) mereka mengumbar kebencian mereka?

    wahai … jangan terkecoh yaa muslimiin …
    mereka tidak berdiri kecuali di atas angan-angan mereka belaka …
    buah dari intrik nenek moyang mereka abdullah ibn saba al yahudi dalam upaya mereka mencabik barisan kaum muslimin ..
    meramu keyakinan syiah mereka di atas dendam kaum majusi yang ditaklukkan para sahabat …
    memabukkan diri di atas keyakinan batil a.l.:
    > wihdatul wujuud,
    > tawassul dengan berdoa dan menyeru kepada para wali,
    > pluralisme agama (khususnya dengan yahudi dan nasrani), dll
    sehingga dengan semua itu tidak heran meluncur tebaran-tebaran racun yang siap menjangkiti kaum muslimin dari lidah-lidah mereka …

    ingatlah wahai muslimin..
    betapa Ali bin abi thalib radiallahuanhu mengingkari keyakinan mereka dan beliau membunuh nenek moyang mereka karena menyeru Ali radiallahuanhu sebagaimana menyeru Rabbul ‘alamin…

    selayaknya kita berlindung kepada Allah dari segala fitnah itu dan kembali membangun pengetahuan agama kita di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah dengan bimbingan para pendahulu yang shalih ..

    Allahua’lam

  2. dhonut Agustus 9, 2008 pukul 3:12 p

    sedihnya membaca postingan dan komentar2 dibagian ini…

    saya cuma mau berbagi, saya seorang muslimah yang berada dilingkungan kerja penuh dg orang beragama lain, dalam beberapa perbincangan ringan dengan mereka terkadang sering ‘menyenggol’ masalah perbedaan pandangan dalam Islam yang demikian tajam, terbukti dari bagian ini…

    setiap saat mereka ‘minta maaf’ jika sedikit melecehkan pertentangan umat ini saya cuma berkata :
    “dalam Islam diyakini bahwa Allah memberi kita akal untuk berpikir, sehingga ketika terjadi perbedaan2 sebagai hasil dari pemikiran itu adalah hal yang wajar”

    lantas dijawab :
    “lalu kalau dalam tubuh islam sendiri sudah terjadi perbedaan, bagaimana kita tahu mana yang harus diikuti?”

    saya cuma menjawab :
    “ikutilah yang paling menuntun kita pada kebaikan dan keselamatan, bukan pada yang menyatakan paling benar. ”

    Assalamu alaikum Wr.Wb,
    dari saya yang merindukan hadirnya Allah dan Muhammad yang sebenar2nya dalam hati dan akal umat.

    wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh,
    Segala puji bagi Allah yg menjadikan Islam itu ilmiah, agama yg turun dg sanad bukan hanya asal pengakuan spt agama2 yg lainnya. Hampir semua merasa diri paling benar atau sudah di atas kebaikan. Nah yg benar2 Islam itu mana? tentunya yg berdasarkan AlQuran dan AsSunnah

  3. ressay April 13, 2008 pukul 3:12 p

    @Fikri
    saya tidak marah mas. Saya memang tidak sepaham Anda. Saya yakin Anda lebih paham daripada saya mengenai Islam. Saya hanya seorang anak kecil yang masih bau kentut, eh salah, bau kencur.

    Sudi kiranya mas membimbing saya.. Saya tunggu kedatangan mas di rumah maya saya.

  4. Fikri April 13, 2008 pukul 3:12 p

    Assalamu’alaikum.
    Saya baca blog Anas kayaknya dipenuhi komentar Ressay yang ga mau kalah, tapi sayang ga paham kaidah dasar dalam Islam.

    itu menurut saya (anda boleh marah).
    Sebaiknya belajar lagi.

  5. ressay Januari 8, 2008 pukul 3:12 p

    Insya Allah. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk kita saling menyambungkan tali silaturahim dan ikatan ukhuwah di antara kita. Demi kejayaan Islam tentunya.

    Mari kita doakan semua mujahid Islam yang saat ini sedang berperang melawan penindasan. Walaupun kita tidak merasakan kepedihan dan ketertindasan mereka, minimal kita mampu mendoakan mereka semua.

    sudah saatnya Islam bersatu. sudah saatnya kita memenuhi panggilan Allah untuk tidak bercerai berai.

  6. dokterpenulis Januari 5, 2008 pukul 3:12 p

    Membaca perdebatan panjang antara mas2, rasanya capek.
    Akhirnya cuma bisa berharap, satu hari dua orang ini bertemu di hari pertempuran itu, lantas mereka saling menatap dan bertanya,
    “Siapa Rabb-mu?”
    “Allah,” jawab yang lain.
    “Siapa nabimu?”
    “Muhammad.”
    “Ah, Sungguh. Engkau adalah saudaraku.”
    Mereka pun berpelukan. Erat. Erat sekali. Tak terasa mata mereka membasah.
    Dan udara malam padang pasir pun terasa hangat. Di kejauhan, tampak sebuah pesawat Israel menukik bumi.
    “Allahu Akbar!”

  7. ressay Januari 5, 2008 pukul 3:12 p

    @Mumtazanas
    semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Antum sekeluarga.

    Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.
    Saya sepakat sekali dengan hadits-hadits Nabi yang Anda sampaikan di atas. Tetapi nampaknya diantara kita terdapat perbedaan penafsiran.

    Ada yang mengatakan perbedaan penafsiran itu wajar, tetapi ada yang mengatakan itu tidak wajar. terserah bagaimana kita mau menyikapi perbedaan pendapat mengenai hal itu juga. toh ujung-ujungnya juga beda pendapat. hehehe…:D bingung khan?

    Sebaik-baiknya generasi adalah generasi ketika Rasulullah hidup, lalu setelah itu, lalu selanjutnya…tetapi tentunya bagi orang-orang yang memang memiliki kualitas keimanan yang bagus. Masa Abu Jahal mau dimasukkan dalam generasi ketika Rasulullah hidup sebagai orang yang baik?

    Memang banyak hadits2 tentang keutamaan para sahabat Nabi, tetapi ada banyak juga yang harus kita kritisi tidak boleh kita terima dengan taqlid buta.

    Banyak juga hadits2 tentang keutamaan sahabat dan Ahlulbayt di kitab syi’ah, tetapi tidak boleh kita menerima semua hadits itu karena si pengumpul hadits itu adalah manusia biasa yang bisa saja salah dalam menyusun hadits2 itu. bisa saja dia menganggap bahwa hadits itu shahih padahal dho’if.

    Maka dalam syi’ah budaya kritik terhadap hadits di kitab2 syi’ah pun berkembang. seperti misalnya hadits2 yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu mengalami tahrif. itu palsu sekali karena bertentangan dengan ayat Al-Qur’an. Dan Syi’ah yang bener, tentunya tidak akan meyakini hadits itu sebagai hadits shohih.

    kalau Anda percaya bahwa ada sebagian syi’i yang menganggap bahwa Al-Qur’an ini mengalami tahrif, kalau saya sih percaya akan ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Allah sendiri yang akan menjaga Al-Qur’an itu.

    Kritik berujung pada pencacian? menurut saya jangan sampaikan kita terjerumus dalam jurang fallacy dengan menggeneralisasi. Tidak setiap kritikan itu berujung pada pencacian, penghinaan. Semua kembali kepada personnya. dan Person yang notabene beragama Islam, harus bisa berakhlak islami ketika mengkritik. bersikap sesuai dengan tuntunan agama Islam.

    sebenarnya pendapat Anda yang terakhir sekali itu mengandung kontradiksi. Anda mengatakan jangan paksakan ketika Islam dan Syi’ah untuk bersatu. jadi seakan-akan Islam dan Syi’ah itu saling berbeda.

    Di kalimat yang lain anda mengatakan walaupun sama sesembahannya dan rasulnya pun sama.

    Dari kalimat Anda yang terakhir ini, menunjukkan bahwa Syi’ah ini Islam kok. bukankah rukun Islam itu mengucapkan dua kalimat syahadat? tentunya tidak hanya mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi juga harus menginternalisasi nilai-nilai dari dua kalimat syahadat tersebut.

    wallahu a’lam bishawab.
    wassalam.

    • ihsan Desember 23, 2012 pukul 3:12 p

      Tahukah anda bahwa didalam syi’ah ada tambahan:”wa asyhadu anna ‘Ali waliyullah”? Atau anda pura2 tidak tau? Ada lagi harus beriman kepada “12 imam yg ma’shum”,kalau tidak me ngimani salah satunya dianggap kafir? Kalau anda memang “syi’ah” yg ber”taqiyah” ya pasti lah anda bela mati2an syi’ah yg menghalakan kawin MUT’AH yang sama dgn zina itu. Mema ng Islam harus bersatu, terutama memberantas kebatilan,tetapi tidak dengan “syi’ah”yg nyata2 menyesatkan,karena ajaran ini di-prakarsai.oleh si yahudi Abdullah bin Saba.

  8. Abu Fudhail Al-Bugisy Januari 4, 2008 pukul 3:12 p

    akh, avatarnya itu adalah sendalnya teman sd-sma ana di sorowako. Namanya Muhammad Subair. Tapi dia ikhwah juga kok. Dia itu juga teman akrabnya Akh Urwah (penerbit al-ilmu). Tapi nggak pa2 kok. Hitung-hitung sendalnya bair bisa populer. Barokallahu fiik.

    Oooo, baru tahu. Wafiik barokalloh

  9. ressay Januari 2, 2008 pukul 3:12 p

    @Mumtazanas
    Syi’ah sangat selektif sekali dalam memasukkan orang-orang ke dalam golongan sahabat. Jangan sampai kita memasukkan orang-orang munafik ke dalam golongan sahabat Nabi.

    Saya yakin semua mazhab berpendapat bahwa mencaci sahabat Nabi itu tidak diperbolehkan. karena mencaci semua orang pun tidak diperbolehkan, yang diperbolehkan adalah mengkritik. Karena sahabat Nabi ini adalah manusia biasa, maka mereka tidak terbebas dari kesalahan dan dosa. Baiknya jika kita menyampaikan suatu kebenaran dengan cara yang benar juga semata-mata untuk Yang Maha Benar.

    Hadits-hadits diriwayatkan tidak hanya melalui jalur sahabat, tetapi juga melalui jalur Ahlulbayt. Bahkan Nabi sendiri memerintahkan kita untuk berpegang teguh kepada 2 perkara penting yang beliau tinggalkan untuk umatnya, yaitu Kitab Allah dan Al-Itrah Ahlulbayt.

    Syi’ah berpendapat bahwa sahabat tidak semua adil. ada di antara mereka yang berbuat dzalim, ada di antara mereka yang pernah berdusta, ada di antara mereka yang pernah meragukan kenabian Nabi, ada di antara mereka yang pernah menolak permintaan terakhir Nabi, ada di antara mereka yang pernah tidak melaksanakan perintah Nabi, ada di antara mereka yang pernah berdebat di depan Nabi, bahkan ada di antara mereka yang saling membunuh satu sama lain, dan masih banyak lagi. Itu menunjukkan bahwa Sahabat itu manusia biasa, mereka tidak terbebas dari kesalahan dan dosa. janganlah kita mengkultuskan sahabat dengan menganggap bahwa semua sahabat itu adil, tidak mungkin berdusta atas nama Allah.

    Syi’ah berpendapat bahwa khalifah/imam sepeninggal Nabi secara de facto adalah Abu Bakar, tetapi secara de jure khalifah/imam sepeninggal Nabi adalah Imam Ali bin Abi Thalib.

    Sesungguhnya agama ini bersumber dari Allah melalui kitab-Nya dan Rasul-Nya, dan diteruskan oleh Ahlulbayt Nabi.

    keutamaan yang saya maksud bukanlah keutamaan seperti itu, tetapi keutaman berkaitan dengan kualitas keimanan. walaupun sahabat Nabi itu hidup satu zaman dengan Nabi, tetapi itu tidak menjamin kualitas keimanan mereka lebih baik.

    ayat al-Qur’an menyebutkan bahwa kemuliaan seseorang itu bergantung pada kualitas keimanannya, bukan pada kekayaan, bukan pada kepintarannya, bukan pada zaman ketika dia hidup.

    berdasarkan sejarah, memang orang-orang khawarij yang bersikap seperti itu. tetapi belakangan, sifat-sifat khawarij itu masih ada saja di antara kelompok syi’ah dan Ahlulsunnah. secara pengelompokkan mungkin khawarij sudah lenyap, tetapi dari sifat-sifatnya masih bergentayangan meneror setiap umat Islam.

    washallallahu ‘ala Muhammad wa Aalihith Thahirin.
    wallahu a’lam bishawab.
    wassalam.

    @Ressay
    “Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalau salah seorang dari kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud (infak) salah seorang dari mereka, dan tidak pula setengahnya.’” (HR. Bukhari [3470], Muslim [2541], Tirmidzi [3861] –dan ini lafalnya-)

    “Sebaik-baik kurun (generasi) adalah kurunku (Sahabat) kemudian yang sesudahnya (Tabi‘in) kemudian yang sesudahnya (Tabi‘ut Tabi‘in).” (HR. Bukhari [2509], Muslim [2533], dan Tirmidzi [3859])

    Ayat-ayat dan hadits-hadits ttg keutamaan dan keimanan para Sahabat sungguh terlalu banyak utk disebutkan.
    Jika sahabat Rasulullah tdk adil kemudian siapa yg berhak menentukan keadaan mereka?
    Jika prinsip ini yg dipegang maka akan timbul keraguan terhadap keaslian AlQuran, sebagaimana sebagian Syiah yg menyatakan bahwa AlQuran yg ada sekarang tinggal sepertiga aslinya.

    Dan tidaklah kritik kecuali berujung kpd cacian, melaknat, penolakan thd hadits-hadits yg dibawa dari Abu Bakar dan ‘Umar, dan tentunya berujung kpd bagaimana dia beragama. Jadi jangan paksakan ketika Islam dan Syiah utk bersatu walaupun sama sesembahannya (Allah subhanahu wata’ala) dan Rasulnya sama (Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam), tapi jalannya berbeda

  10. ressay Desember 30, 2007 pukul 3:12 p

    @Mumtazanas

    Syi’ah tidak membenci Sahabat-sahabat Nabi. Syi’ah justru sangat menghormati kedudukan sahabat Nabi sehingga Syi’ah sangat selektif sekali untuk memasukkan orang ke dalam golongan sahabat Nabi. Kedudukan sebagai sahabat Nabi adalah kedudukan yang mulia bahkan sampai-sampai Nabi berkata, “Jangan kalian caci sahabatku…” Saking tingginya kedudukan sahabat Nabi itu sehingga tidak boleh kita mencaci sahabat Nabi.

    Setuju utk tdk mencaci sahabat, radliallahu ‘anhum, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Nah disinilah perbedaan antara Ahlussunnah dan Syiah, dalam mengkategorikan siapa Sahabat Rasulullah dan ini yang harus disatukan dahulu sebelum yang lainnya, karena masalah mencaci sahabat Nabi adalah termasuk kaidah utama, hadits-hadits bersumber dari mereka, kalau sdh berbeda dari akarnya bagaimana dengan cabangnya? sungguh akan berbeda luar biasa

    Dan saya yakin semua mazhab dalam Islam sepakat untuk tidak mencaci sahabat Nabi.

    Permasalahannya sekarang adalah bagaimana mazhab-mazhab yang ada itu memandang sahabat sebagai seorang manusia biasa yang bisa saja berbuat salah, bisa saja berbuat dosa, bisa saja mereka terjerumus dalam jurang kemaksiatan.

    Disinilah letak perbedaan antara Syi’ah dan Ahlulsunnah. Ahlulsunnah menganggap bahwa semua sahabat Nabi itu adil. sedangkan Syi’ah meyakini bahwa sahabat Nabi itu sama dengan kita yaitu sebagai manusia biasa yang bisa saja berbuat salah dan dosa. kemuliaan kedudukan yang mereka dapatkan tentu saja bukan karena mereka hidup satu zaman dengan Nabi, tetapi karena kualitas keimanan mereka. Syi’ah meyakini ajaran Islam bahwa mulianya seseorang ditentukan oleh kualitas keimanan mereka, bukan ditentukan oleh kekayaan, jabatan, zaman ketika dia hidup, dan lain sebagainya. Jika kualitas keimanannya buruk maka dia bukanlah orang yang mulia. tetapi jika sebaliknya, maka orang itu dapat dikatakan sebagai orang mulia. Tidak itu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Muawiyah, ressay, mumtazanas, hanif, semua orang.

    Para ahlul hadits dari kalangan ahlussunnah menetapkan bahwa semua sahabat Rasulullah itu adil (semua riwayat haditsnya diterima), berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala: “Mereka ridlo terhadap Allah, dan Allahpun ridlo terhadap mereka.”
    Mereka, para sahabat Rasulullah, adalah manusia yg tidak maksum tapi kita yakin bahwasanya mereka tdk akan berdusta atas nama Allah, sebagaimana orang-orang Syiah tuduhkan. Dan ini pula yg menjadikan orang2 Syiah banyak menolak hadits2 terutama dari Abu Bakar dan Umar radliallahu ‘anhumma yg dituduh merebut kekuasaan dari sahabat ‘Ali radliallahu ‘anhu. Seandainya kita ragu akan runtuhlah agama ini, karena sesungguhnya agama ini datang kepada kita melewati mereka.

    Syi’ah menganggap bahwa sahabat Nabi pun tidak bebas dari kritik. Kita berhak untuk mengkritik sikap atau ucapan dari sahabat yang memang bertentangan dengan ajaran Islam. karena apa? karena mereka adalah manusia biasa seperti kita. mereka bukanlah manusia suci. Tetapi kita semua adalah manusia yang senantiasa melakukan proses menyucikan diri.

    Para Sahabat Rasulullah berbeda dengan kita, mereka punya keutamaan. Pernyataan anda, mereka adalah manusia biasa seperti kita, akan bertolak belakang dengan pernyataan yg menyebutkan bahwa para Sahabat punya keutamaan karena mereka berjumpa langsung dengan Rasulullah dan yang paling paham dengan agama ini.

    Nah, diantara orang sunni dan syi’ah, pasti ada segelintir orang yang ekstrem dalam bersikap. Mereka terlalu berlebihan dalam melaksanakan suatu kesimpulan tertentu. Contoh misalnya:

    Orang sunni yang saking tidak sepakatnya dengan pandangan Syi’ah, dia mengatakan bahwa Syi’ah itu halal darahnya karena ia berbeda pandangan dengannya dan orang yang berbeda pandangan dengan dirinya, maka orang itu adalah sesat bahkan kafir.

    Orang Syi’ah yang dalam pembelajarannya selalu ditekankan bahwa sahabat Nabi adalah manusia biasa yang tidak bebas dari kritikan, ketika mengkritik sahabat tertentu sikapnya berlebihan sampai mencaci maki.

    Sikap-sikap seperti itu tidak seharusnya kita tampilkan karena itu akan merusak citra Islam itu sendiri.

    seperti yang sudah saya sampaikan di atas bahwa kebenaran itu ada dua. kebenaran yang relatif dan kebenaran yang mutlak.

    Pertanyaan, “Siapa Tuhan kita?” jawabannya hanya satu, yaitu “ALLOH.”

    Pertanyaan “Siapa Nabi kita?” jawabannya hanya satu, yaitu “Muhamamd”.

    itu adalah kebenaran mutlak yang kalau ada orang yang tidak meyakini kedua jawaban tersebut, maka dia bukan seorang muslim.

    Rasulullah pernah bersabda, “Perangilah seseorang sampai ia mengucapkan dua kalimat syahadat.” kalau gak salah bunyi haditsnya seperti itu yach?

    Jadi ketika seseorang sudah meyakini Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad adalah Rasul-Nya, maka darahnya haram untuk ditumpahkan.

    Orang sunni yang mas sebutkan adalah khawarij bukan ahlussunnah.

    Lalu ada kebenaran yang relatif.

    Pertanyaan, “Cara shalat mana yang benar?”
    Ada yang menjawab, “Syafi’i.” ada juga yang menjawab, “Salafy.” ada yang lalu membantah, “Tidak…!! yang benar adalah Syi’ah.”

    itu adalah kebenaran yang relatif. Kita mencoba menafsirkan ayat al-Qur’an dan hadits Nabi dengan metode yang berbeda. ada yang kita melihat al-Qur’an dan Hadits dari sudut pandang A, ada yang dari sudut pandang B, ada yang dari sudut pandang C. ketiganya menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda karena perbedaan cara mengambil sudut pandang.

    maka dari itu, mari kita satukan umat Islam ini.

  11. ressay Desember 29, 2007 pukul 3:12 p

    @hanif007
    Sunni meyakini bahwa Tuhannya adalah Alloh, Syi’ah pun sama. Sunni meyakini bahwa Nabi terakhir mereka adalah Muhammad, Syi’ah pun seperti itu. Sunni meyakini bahwa Kitab suci mereka adalah Al-Qur’an, Syi’ah juga demikian.

    Sunni dan Syi’ah sama2 berpuasa di bulan Ramadhan. Sunni dan syi’ah bareng-bareng melakukan haji di Mekkah. Sunni dan Syi’ah yang diwakili oleh Hamas, Iran, Hizbullah, mereka saling bahu membahu melawan agresi Israel dan Amerika.

    Lalu mengapa kita ingin memecah belah antara sunni syi’ah ini?

    Bagaimana dengan Abu BAkar dan ‘Umar serta beberapa Sahabat Rasulullah? Kenapa org Syiah (Rafidhah) tdk suka sehingga memecah belah barisan kaum muslimin? Itulah awal perpecahan, tdklah kita merenungkan hal ini?

  12. kelukman Desember 27, 2007 pukul 3:12 p

    Assalaamu’alaykum!

    Yang penting, jangan saling berdebat tentang perbedaan di antara kita!
    Sudahlah….. yang pentingkan kita sama-sama Islam. Walaupun cuma di KTP.

    Mana ada Islam seperti itu. Yang kita inginkan ISLAM yang seperti Islamnya Muhammad abdullah wa rosuluh. Kalau kita membiarkan perselisihan di antara kita -padahal sudah ketahuan, barometer al haq adalah mengikuti al qur’an dan as sunnah dengan pemahaman generasi salaf yang sholih- sama saja kita seperti kaum musyrikin. Mereka berpecah belah dalam agama.

    Assalaamu’alaykum akh Anas.

    Wa’alaikumussalam, jazakalloh atas nasihatnya wa barokallohu fiikum

  13. hanif007 Desember 19, 2007 pukul 3:12 p

    hmmm…
    bismillah…
    enaknya ma-em gado-gado
    apalagi bakso (aku belum pernah sih maem-gado-gado asli)
    paling tahu, aku gado sama tempe, trus sama kangkung, ama nasi, kuah ayam, pokoknya gado-gado lah…
    tapi, kalo gado-gado dalam keyakinan (akidah) rasanya gimana tuh ya?
    Pertolongan Allah itu hanya untuk yang benar-benar lurus aqidahnya. Aqidah yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, trus yang memahaminya adalah pendahulu umat ini yang baik-baik. semoga kita termasuk didalamnya. Hmm… makan gado-gado yuk
    (ada yang mau nraktir gado2 yg asli)?

  14. Arman Desember 19, 2007 pukul 3:12 p

    Assalamu’alaykum Wr. Wb.,

    Mungkin buku ana berikut bisa memberikan sedikit tambahan ilmu terhadap masalah-masalah yang ada.

    Buku ke-1 :

    Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih : Sebuah pelurusan sejarah & Jawaban untuk Dinasti Yesus

    Penerbit Restu Agung, 2007

    Kata Sambutan : Masyhud SM (Dewan Pakar FAKTA) & Singgih Gozali (Pengasuh Situs Swaramuslim.net)

    Buku ke-2 :

    Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminudin hingga Ahmad Musaddiq

    Penerbit Hikmah Publishing (Mizan Group), 2007

    Kata Pengantar : Aris Hardinanto (Team Moderator Milis_Iqra dan Pengamat Perbandingan Agama Semitik) & Abu Deedat Syihab MH
    Ketua Umum Forum Anti Gerakan Pemurtadan (FAKTA) & Haidar Sagir

    Cover kedua buku ini bisa diakses di http://arsiparmansyah.files.wordpress.com/2007/12/2buku.jpg

    Jazakallahu Khoiron Katsiron.
    Salamun ‘ala manittaba al Huda

    ARMANSYAH
    http://armansyah.swaramuslim.net
    http://arsiparmansyah.wordpress.com
    http://rekonstruksisejarahisaalmasih.wordpress.com
    http://jejakpararasulsetelahmuhammad.wordpress.com/

  15. ressay Desember 18, 2007 pukul 3:12 p

    @hanif
    untung saya tidak tahu artinya.

    @anas fauzi rakhman
    Terima kasih atas tanggapannya.

    Sepanjang yang saya ketahui, apa yang Anda sampaikan adalah sebuah bentuk Fallacy. Anda menggunakan suatu otoritas, tetapi sayangnya otoritas itu tidak relevan. Anda mengatakan bahwa yang menyatakan suatu kelompok itu sesat atau tidak bukan MUI, tetapi Al-Qur’an dan Sunnah. Penggunaan Al-Qur’an dan Sunnah inilah yang menurut saya tidak relevan. karena Ketika kita mengatakan “keyakinan Anda bertentangan dengan Al-qur’an dan Sunnah”, maka sebenarnya keyakinan orang itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah YANG Anda pahami.

    Secara tekstual, memang Rukun Iman dan Rukun Islam Syi’ah berbeda. Tetapi itu secara tekstual sih, artinya secara kasat mata juga. Tetapi kalau kita mau berlelah-lelah untuk mengkaji hal ini, maka tidak dapat orang mengatakan bahwa Syi’ah ini sesat karena tidak berukung iman dan rukun islam seperti Ahlulsunnah. Karena, pada dasarnya Syi’ah pun meyakini adanya Syahadat. Syi’ah melakukan Shalat. Syi’ah berzakat. Syi’ah berpuasa. Bahkan jutaan umat Islam Syi’ah berangkat haji. Kalau mereka bukan Muslim, tentunya Syi’ah tidak akan diperbolehkan berhaji.

    Jumlah shalat Syi’ah sama seperti Ahlulsunnah, yaitu 5. Tetapi perbedaan antara Syi’ah dan Ahlulsunnah terletak pada waktu pelaksanaan shalat tersebut. Rakaat shalat antara Syi’ah dan Ahlulsunnah sama. Diawali dengan takbiraul ikhram dan diakhiri dengan salam. sama bukan? walaupun ada sedikit perbedaan dalam gerakannya. Bukankah dalam Ahlulsunnah sendiri terdapat perbedaan gerakan?

    Apa yang menyebabkan itu? maka saya sepakat dengan komentar Anda di atas. Anda mengatakan bahwa “Ahlulsunnah menafsirkan…”

    Jadi letak perbedaannya adalah pada penafsiran kita.

    Sesuatu pengetahuan dapat dikatakan mutlak, tetapi dapat dikatakan juga relatif.

    Contoh pengetahuan mutlak:
    Apa ibukota Indonesia? Maka semua orang yang mengetahuinya, akan menjawab, “Jakarta.” Dan memang jawaban yang sebenarnya cuman satu, yaitu Jakarta.

    Contoh pengetahuan relatif:
    Dimana letak kota tegal? Maka orang Cirebon akan mengatakan, “Tegal itu ada disebelah timur kota cirebon.” Orang Pemalang akan mengatakan, “Tidak..!! Tegal itu ada di sebelah timur kota Pemalang.” Lain halnya dengan orang Kalimantan, mereka akan mengatakan, “Tegal ada di sebelah selatan kami.” dst.

    Jadi keyakinan seseorang akan sebuah keyakinan, itu dipengaruhi oleh sudut pandang masing-masing orang.

    Menurut saya, boleh saja kita saling mengkritisi pemikiran dan keyakinan orang lain. Tetapi jangan sampai itu membuat kita berpecah belah. Kita ini sesama muslim harus saling membantu, mencintai.

    Ingin rasanya saya melihat umat islam di Indonesia bersatu. Seperti Iran dan Hamas. Seperti Hizbullah dan Hamas. Mereka bahu-membahu melakukan perlawanan atas arogansi Amerika dan Israel.

    Saya jadi teringat dengan salah satu ucapan dari salah seorang mujahid Hizbullah. Beliau mengatakan, “Kemenangan kami bukanlah kemenangan Hizbullah, tetapi kemenangan bagi umat Islam.”

    Maka, bersatulah.

    • ihsan Desember 23, 2012 pukul 3:12 p

      Jangan bicara muter2 lah,anda sengaja me-nutup2i apa itu syi’ah yg sebenarnya,terutama yg di Iran itu. Mulai dari cara wudhu’nya sdh beda,sesudah takbiratul ihram:kedua tangan ha nya dilepas kesamping,didalam shalatnya ada pencacian/pengutukan kpd Abu Bakar dan Umar(sahabat/khalifah Rasulullah). Shalat dijadikan 3 waktu,walaupun tdk musafir atau uzur. Menghalalkan kawin Mut’ah yg sama dgn menghalalkan ZINA. Sekali lagi jangan kau tipu um at Islam dgn keyakinan sesat kau itu,selamat ner -“TAQIYYAH”. Sunni bersatu dgn syi’ah No Way!!

  16. Sunni Asli Desember 18, 2007 pukul 3:12 p

    Hehehe..ud pk moderasi toh

    Jika menggunakan email/web yg berbeda akan dimoderasi. Gunakanlah email yg asli!!

  17. Sunni Asli Desember 18, 2007 pukul 3:12 p

    Salam…
    nih buat pelajaran yg asal ngom..:

    Hadis-Hadis Palsu Keutamaan Abu Bakar, Umar dan Utsman
    Di antara hadis-hadis palsu yang diproduksi para sukarelawan dan pendekar pemalsuan yang menyambut dengan antusias kebijakan Mu’awiyah yang memerintahkan memproduksi hadis keutamaan pesaing-pesaing Imam Ali as. adalah hadis palsu di bawah ini;
    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi sawa. bersabda:

    Tiada pohon di surga kecuali tertulis di setiap daunnya, Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, Abu baker Shiddiq, Umar faruq (pemisah antara haq dan batil) dan Utsman adalah pemilik dua cahaya.
    Keterangan:
    Bukti-bukti kebatilan dan kebohongan hadis ini cukup jelas untuk dibicarakan di sini. Namun kami tidak akan memebuktikannya kecuali dari penegasan para ulama Ahli Hadis Ahlusunnah sendiri, demi menjaga kenetralan dan etika berdiskusi secara sehat. Karenanya kami akan sebutkan komentar pakar hadis Ahlusunnah.
    Riwayat ini adalah hadis palsu yang dipalsukan oleh Ali ibn Jumail ar Raqiy, diriwayatkan ath Thabarani dan ia berkata:

    Ini adalah hadis mawdhû’ (palsu), dan Ali ibn Jumail adalah pelamsu berat. Ia telah menyebdiri dalam meriwayatkannya dan kemudian dicuri oleh Ma’ruf ibn Abi ma’ruf al balakhi dan AbdulAziz ibn Amr al Khurasani, seorang perawi tak dikenal identitasnya.
    Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari jalur Ali ibn Jumail. Dan diriwayakan juga oleh al Khatli dalam kitab ad Dîbâj dari jalur Abdul Aziz ibn Amr al Khurasani. Seperti dikatakan adz Dzahabi dalam kitab Mizân-nya,2/138:

    Abdul Azizi tidak dikenalan, hadis ini adalah batil, dialah (Abdul Aziz) adalah penyakitnya.
    Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dari jalur ma’ruf al balkhi. Adz Dzahabi dalam Mîzân:3/184, berkata tentangnya: Hadis ini adalah palsu, tetapi ia dikenal dari riwayat Ali ibn Jumail dari Jarir, ia bersumpah seraya bersumpah, “Demi Allah, jarir menyampaikan hadis kepadaku. Ibnu Adiy berkomentar, “Ma’ruf ini tidak dikenal, bias jadi ia mencurinya dari Ali ibn Jumial.”

    Ia juga diriwayatkan Abul Qâsim ibn basyrân dalam Âmâli-nya dari jalur Muhammad ibn Abdi ibn Amir as Samarqandi, ia adalah seorang pembohong besar dari Isham ibn Yusuf. Ibnu Adiy berkata, :Ia meriwayatkan yang tidak pernah didukung parawi lain.
    Hadis ini juga diriwayatkn al Khathib al Baghdadi dalam Târîkh-nya:5/4 dan 7/337 dari jalur Hasan ibn Ibrahim al Ihthiyâthi dari Ali ibn Jumali.
    Adz Dzahabi berkata dalam Mîzân-nya:1/253 setelah menyebutkan jalur di atas:

    “Ini adalah batil. Yang tertuduh pemalsu adalah Hasan al Ihthiyâthi.
    Dan dalam,3/184, ia menegaskan:

    “Ia adalah palsu, mawdhû’. “
    Ibnu Katsir juga meriwayatkannya dalam Târîkh-nya:7/205 dari jalur ath Thabarani, dan setelahnya mengatakan:

    Ini adalah hadis dhaif, pada sanadnya terdapat perawi yang masih diperbincangkan dan ia hadis yang terdapat kemunkaran di dalamnya.

    Adalah sikap aneh dari Ibnu Katsir yang menggolongkan hadis palsu di atas sebagai hadis dha’if (lemah) semata, sementara ia sendiri mengaku bahwa padanya terdapat nakârah! Ia pasti tau bahwa hadis seperti itu tidak layak disebut sebagai hadis dhai’f dalam istilah Ahli Hadis, padahal ia sendiri menggoleongkan dirinya sebagai seorang dari mereka! Tapi yang mengenal mentalitas Ibnu pasti tidak akan kaget dengannya. Dan yang lebih mengherankan adalah sikap Al Khathib al Baghdadi yang meriwayatkannya tanpa berkomentar sepatah katapun tentang kondisi hadis tersebut. Tapi jika Anda kenal pesris siapa Al Khathib dan bagaimana kebiasaannya dalam menyikapi hadis-hadis palsu seperti itu pasti tidak akan heran
    ==========================================
    yang ini Hadis :”80 Ribu Malaikat Di Langit Memintakan Ampunan Bagi Pecinta Abu Bakar& Umar”

    Satu lagi seri kepalsuan atas nama nabi suci Muhammad saw. yang diproduksi para ahli hadis.
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi saw. Bahwa beliau bersabda:

    “Sesungguhnya di langit terdekat terdapat 80 ribu malaikat yang memohonkan ampunan bagi sesiapa yang mencintai Abu Bakar dan Umar. Dan di langit kedua terdapat juga 80 ribu malaikat yang melaknati sesiapa yng membenci Abu Bakar dan Umar.”
    Keterangan:
    Hadis palsu ini telah diriwayatkan oleh Khathib Al Baghdadi. Ia adalah produk Abu Said Hasan ibn Ali al ‘Adwi al Bashri.

    Ada jalur lain dalam riwayat ad Dailami dengan tambahan: “Dan barang siapa mencintai sahabatku maka ia selamat dari kemunafikan.” Dan dipastikan adz Dzahabi sebagai hadis palsu. Ibnu Hajar menyebuitkan jalur lain dalam Lisân al Mîzân,4/107 dan mengatakan sanad itu batil.
    ====================

    Hadis : “Abu Bakar Penentu Ahli Surga dan Neraka, Umar Pemberat dan Peringan Timbangan Hamba dan Utsman Penghalau Kaum Munafik Dari Telaga Nabi!”

    Tak henti-hentinya mesin pembuat hadis palsu beropersi memproduk hadis-hadis palsu atas nama Nabi saw. Tentang keutamaan Abu baker, Umar dan Utsman. Kali ini agar kepalsuan itu tidak kentara, disisipkannya nama Ali as. Sebagai yang juga mendapat bagian keutamaan tersebut.
    Perhatikan hadis di bawah ini:
    Dari Ibnu Abbas ra. Dari Rasulullah saw.

    Ketika hari kiamat tiba, apa penyeru menyeru dari bawah Arsy, ‘Datangkan kepada-Ku sahabat-sahabat Muhammad!’
    Maka didatangkanlah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Maka dikatakan kepada Abu Bakar, ‘Berdirilah di depan pintu surga, masukkan siapa yang engkau kehendaki, tolaklah yang engkau kehendaki.
    Dikatakan kepada Umar, ‘berdirilah engkau di tempat mîzân (timbangan), beratkan timbangan orang yang engkau kehendaki, dan ringankan yang engkau kehendaki.
    Dan diberikan kepada Utsman sebuah dahan dari pohong yang lansung ditaman Allah dengan tangan-Nya lalu dikatakan kepadanya, ‘usirlah dengannya siapa yang engkau kehendaki dari telaga.
    Dan Ali diberi dua baju terhias, lalu dikatakan kepadanya, ‘Ambillah keduanya, sesungguhnya Aku telah menyiapkannya untukmu sejak Aku mencipkana langit dan bumi.’”

    Ketarangan:
    Hadis ini juga hasil pemalsuan para sukarelawan yang sangat peduli untuk membuat-buat hadis palsu keutamaan para sahabat, khususnya dalam rangka menyaingi hadis-hadis keutamaan Imam Ali as. Yang telah diakui kesahihan kebanyak sanad dan kelurusana matannya oleh para ulama seperti Imam Ahmad ibn Hanbal dll.
    Hadis palsu diatas telah diriwayatkan oleh Ibrahim ibn Abdullah al Mashîshi dan Ahmad ibn Hasan ibn Qasim al Kufi. Kedua perawi ini adalah para pemalsu hadis kelas kakap, tidak diketahu dengan persis siapa dari mereka yang memalsunya. Demikian ditegaskan adz Dzahabi dalam Mîzân-nya:1/20 dan 42. Selain itu, pada hadis itu terdapat qalab (pembolak-balikan), sebab redaksi hadis itu seperti dikenal adalah demikian:

    … dan ringankan yang engkau kehendaki. Dan Utsman diberi dua baju berhias, lalu dikatakan kepadanya, ‘pakailah keduanya, Aku telah menyiapkannya sejak Aku menciptakan langit dan bumi.
    Dan Ali diberi tongkat kayu dari pohon yang Allah tanam dengan tangan-Nya sendiri di surga, lalu dikatakan, usirlah manusia dari telaha.
    Demikian dalam ar Riâdh an Nadhirah; Muhibbuddin ath Thabari:1/32.
    Mereka mebaliknya kemulian Ali dalam mengusir kaum munafikin dari telaga dan dijadikannya untuk Utsman, tentunya setelah menambah awal redaksinya secara palsu.
    Sementara hadis tantang keistimewaan Ali as. Kelak di hari kiamat dengan diserahkannya tugas mengusir kaum munafikin adalah telah dirawayatkan oleh para ulama hadis Ahlusunnah dari banyak jalur dari beberapa orang sahabat Nabi saw. Al Hakim telah menshahihkannya dalam Al Mustadrak
    ==============================
    Tentang Hadis Keutamaan Mu’awiyah ibn Abi Sufyân
    Di antara ciri kaum Nawashibdi masa silam maupun sekarang ialah apabila disebut keutamaan dan keistimewaan Ali as., mereka bercepat-cepat mengingkarinya, itu pasti mereka lakukan selagi mereka bisa, dan apabila pintu pengingkaran tertutup di hadapan mereka, maka penta’wilan dengan ta’wilan yang menyimpang, dan apabila jalan ini juga tertutup, maka mereka berusaha membuat-buat hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali as. untuk dijadikan tandingan… dan dikemudian hari kaum Nawashib kontemporer bekerja keras menyebar luaskan hadis-hadis palsu itu.
    Hadis-hadis palsu itu tersebar luas di kalangan para pemuja bani Umayyah di setiap generasi. Mereka mewairskannya generasi demi generasi… dan di atara hadis palsu itu adalah riwayat-riwayat keutamaan Mu’awiyah ibn Abi Sufyân.
    Al Mubarakfûri-pensyarah kitab Sunan at Turmudzi- menegaskan, “Ketahuilah bahwasannya telah datang banyak riwayat hadis tentang keutamaan Mu’awiyah, akan tetapi tidak ada darinya yang sahih sanadnya”. Demikian ditegaskan Ishaq ibn Rahawaih dan an Nasda’i serta para ulama selain keduanya. Dan Abu ‘Ashim telah mengarang sebuah buku tentang keutamaannya (Mu’awiyah), demikian juga dengan Abu Amr, Ghulam Tsa’lab dan Abu Bakar an Naqqâsh. Ibnu al jauzi telah menyebutkan dalam kitab al Maudh’ât-nya beberaa hadis yang mereka sebutkan, kemudian beliau menyebutkan dengan sanad bersambnung keada Ibnu Rahawaih bahwa ia berkata, ‘Tidak sahih satupun dari hadis keutamaan Mu’awiyah. Ibnu al Jauzi juga meriwayatkan dari jalur Abdullah putra Imam Ahmad, bahwa ia bertanya kepada ayahnya, ‘Apa pendapatmu tentang Ali dan Mu’awiyah? Maka beliau menundukkan kepalanya sejenak kemudian berkata, ‘Ketahuliah bahwa Ali banyak musuhnya, maka musuh-musuhnya mencari-cari kesalahannya namun mereka tidak menemukannya, lalu mereka mengangkat dan memuja-muja orang telah memeranginya sebagai bentuk maker dari mereka terhadap Ali.’” Al Mubarakfûri menerangkan maksud ucapam Imam Ahmad itu dengan hadis-hadis palsu tentang Mu’awiyah yang dibuat-buat oleh mereka (musuh-musuh Ali as.) yang sama sekali tidak punya asal muassal. Demikian diterangkan dalam Fathu al Bâri.
    Maka dari ketarnagn para ulama itu jelaslah bagi kita bahwa hadis-hadis palsu itu adalah hasil kejahatan musuh-musuh Imam Ali as. dalam upaya mereka untuk meluapkan kedengkian mereka kapada Imam Ali as.
    Dan yang tidak boleh kita lupakan ialah bahwa Mu’awiyah memiliki andil besar dalam pemalsuan tersebut. Itu semua tidaklah heran bagi kita, memang musuh-musuh Ali as. pasti akan berbuat dengan segala cara dan upaya untuk menjatuhkan Ali dan atau mengunggul-unggulkan musuh-musuh Imam Ali as., akan tetapi yang mengherankan adalah setelah terbukti bahwa hadis-hadis seprti itu adalah palsu di mata ulama besar Ahlusnnah masih ada orang yang mangaku Ahlusunnah menyebarluaskan hadis-hadis palsu itu atas nama Nabi mulia saw. dan berani dengan tanpa asalan mengatakan bahwa ia adalah hadis shahih.
    Ini adalah sebuah musibah besar atas Islam dan kaum Muslimin. Innâ lilahi wa innâ ilaihi râji’ûn.
    Dalam blog haulasyiah ditulis sebuah artikel dengan judul :SEKELUMIT TENTANG KEUTAMAAN MU’AWIYAH BIN ABI SUFYAN yang dipenuhi dengan sebuah riwayat palsu tersebut.
    Hai anda yang mengaku sebagai pembela Islam ketahuilah bahwa apa yang kamu lakukan itu adalah sebuah bentuk penipuan terhadap hakikat Islam yang cemerlang. Engkau menukil hadis palsu dari riwayat at Turmudzi, tetapi melupakan keterangan para ulama Ilam Ahlusunnah yang menvonis akan ketidak shahihan hadis tesebut. Adakah pengkhianatan yang melebihi itu?
    Perhatikan komentar al Mubarakfûri tentang hadis yang kamu sebutkan di atas.
    Parawi hadis itu yang mengaku mendengar langsung dari mulut suci Rasulullah saw. adalah bernama Abdurrahman ibn Abi ‘Umair. Al Azdi berkata tentangnya, ‘Ia diperselisihkan persahabatannya (dengan Nabi saw.), ia tinggal di kota Hims, demikian disebutkan dalam at Taqrîb.
    Dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb disebutkan, ‘Ia hanya memilki satu hadis saja dalam Sunan at Turmudzi tentang sebutan Mu’awiyah.’ Al Hafidz berkata, ‘Ibnu Abdil Barr berkata, ‘Tidak benar ia pernah bersahabat dengan Nabi saw., dan tidak benar pengisnadan hadisnya.’”
    Kendati at Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib, akan tetapi al hafidz Ibnu Hajar memastikan bahwa hadis ini sanadnya tidak shahih, Isnâduhu laisa bishahîh, seperti telah anda ketahui ketika menyebut biografi Abdurraman ibn Abi Abi ‘Umair.
    Hadis kedua yang juga disebutkan at Turmudzi pada sanadnya terdapat periwayat bernama Amr ibn Wâqid ad Dimasyqi, ia matrûkul hadîts (hadisnya dibuang). Penyebutan status seperti di atas hanya benar disematkan untuk seorang periwayat yang banyak meriwayatkan hadis-hadis ngawur yang tidak benar di kalangan para ahli hadis.
    Setelah ketarangan singkat di atas, maka tidaklah heran apabila kaum Nawashib Modern tetap saja bersemangat menyebar luaskan hadis-hadis palsu keutamaan Tuan dan Junjungan Besar mereka Mu’awiyah, sebab kalau harus menanti hadis shahih, maka kapan kesempatan itu akan mereka peroleh.

    Mau Lagi…??? masih banyak ko…kapan2 yach…

    Wassalam…

    Komen-nya boleh banyak tapi kalau bisa satu-satu haditsnya mas biar lebih jelas pembahasannya. Tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar banyak juga yg shohih kok mas.
    “Dalam blog haulasyiah ditulis sebuah artikel dengan judul :SEKELUMIT TENTANG KEUTAMAAN MU’AWIYAH BIN ABI SUFYAN yang dipenuhi dengan sebuah riwayat palsu tersebut.” Saya sudah membacanya dan cuman ada 1 hadits. Oh ya maksud Ibnu Hajar: “sanadnya bukan shahih”, klo begitu tdk berlwanan jika disebut hasan gharib oleh tirmidzi.
    Oleh karena itu bersyukurlah dg ulama-ulama ahlul hadits yg melakukan koreksi terhadap hadits2, mereka terkenal dg ulama jarh wa ta’dil (dan ini merupakan hujjah bahwa dalam rangka menerangkan keadaan seorang berkaitan dg agama walaupun ‘seolah’ mencela). Contohnya: sudah paham di kalangan ulama ahlussunnah utk menolak semua riwayat syiah rafidlah karena mereka terkenal pendusta dan mereka beranggapan bolehnya berdusta atas nama agama.

  18. anas fauzi rakhman Desember 18, 2007 pukul 3:12 p

    Sebenarnya yg menjadikan faktor sebuah aliran itu sesat atau tidak bukan dari MUI tapi dari AlQuran dan AsSunnah.

    Mengenai komentar yang dihapus atau dimoderasi oleh web/blog syiah disini buktinya. Klo mau membeberkan semuanya ga akan baik.

    Yang dikedepankan adalah solusi, bersatu di atas tali Allah bukan bersatu di atas perbedaan. Diluruskan dahulu yg prinsip, misalnya kenapa rukun Islam&rukun Iman Syiah berbeda dengan rukun Islam&rukun Iman-nya AhlusSunnah (riwayat bahwa rukun Islam&Iman disebutkan dlm Shohih Bukhori dari sahabat Abu Bakr), jumlah sholat dlm sehari-nya; Syiah beranggapan cukup 3 kali dlm sehari sesuai sebuah hadits sedangkan ahlussunnah menafsirkan hadits tsb karena Rasulullah menjamak dluhur-ashr maghrib-isya.

  19. Ram-Ram Muhammad Desember 18, 2007 pukul 3:12 p

    Anaz (Mumtanaz) yang saya kenal adalah seorang Salafy yang santun… Tutur katanya yang asli (bukan yang copy paste :mrgreen:) tidak membuat kuping panas, setidaknya kalau sama saya 8).

    Coba “yang lain” seperti begini. Enak…
    Kita bisa berdiskusi sampai pada tema yang sensitif dan khilafiyah sekalipun dengan santai. Mudah-mudahan selesai berdiskusi, kesimpulan yang muncul dalam benak masing-masing adalah hidayah dari Allah SWT.

    Kalau gayanya bertutur kasar, sulit untuk diterima orang lain. Kalau orang yang lain kasar? Ya jangan ikut-ikutan. Wallahi, saya pribadi malas untuk ikut memberikan pandangan terhadap sebuah tema jika kemudian yang terjadi adalah debat kusir. Saya kira tidak terlalu sulit “membuka jubah” masing-masing ketika berdiskusi, biar terjadi keakraban.

    Buat Mumtanaz, keep istiqomah dalam bertutur dengan cara santun ya. Orang tidak akan melihat dulu apa yang disampaikan, tapi bagaimana cara menyampaikannya.

    Wah bapak terlalu berlebihan. Mmg dunia blog ini sdh campur baur, yg terkenal adalah yg paling ekstrim jeleknya, kaya dunia selebriti.

  20. hanif007 Desember 18, 2007 pukul 3:12 p

    wajik klethik gula jawa
    luwih becik sing prasaja
    wajik klethik gula jawa
    becik ketitik olo dadi ketara…

    ada yang mau nerjemahin ?
    saran buat mas Anaz, pake moderasi mas…
    makasih, barakallahu fiikum

  21. ressay Desember 17, 2007 pukul 3:12 p

    @assalafiy…88
    Pelecehan terhadap Al-Qur’an dan Sunnah? gak tuh, saya tidak merasa melecehkan keduanya. karena Al-Qur’an itu dari Allah dan Sunnah itu dari Allah karena Rasulullah tidak akan melakukan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya saja melainkan dari Allah. Mengingat hal itu, maka sudah sepantasnya keduanya harus dihayati dan diamalkan.

    Mengapa aneh? baca lagi deh shahih muslim nanti akan ketemu jawabannya.

    @Junarto
    Website apa? insya Allah akan saya tanyakan kepada webmaster. gini-gini saya kenal dengan beberapa webmaster web2 Syi’ah.

    coba sebutkan nama webnya.

    @susantoazis
    Peringatan keras apa yang Anda maksud? darah saya halal? kalau iya, sok datengin saya, TETAPI SENDIRIAN JANGAN BAWA MASSA. itu baru jagoan. kalau gak berani, jangan sok jadi jagoan. Tenang, saya juga tidak akan membawa massa. Karena dalam jiwaku ada jiwa Mustofa..!! karena dalam jiwaku ada jiwa Haidar…! karena dalam jiwaku ada jiwa Sayyidus Syuhada Husain…!!

    Tetapi tenang saja, dalam jiwaku juga masih ada jiwa Sayyidah Khadijah Al-Kubro dan Sayyidah Fatimah az-Zahra yang penuh kelembutan.

    Mengenai penafsiran Anda tentang surat An-Nisa tersebut, apa dasarnya sehingga Anda mengatakan bahwa orang-orang mukmin yang disebut dalam surat tersebut adalah para sahabat?

    Saya peringatkan Anda untuk tidak jadi orang yang sok jagoan. ok?

    Washallallahu ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad
    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    @Hanif
    BANTAHAN UNTUK ULAMA2 YANG BERCOKOL DI MUI:
    1. Syi’ah tidak menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, kalau gak percaya, silakan diskusi dengan ulama2 syi’ah yang ada di daerah Anda.

    2. Syi’ah memandang bahwa sahabat Nabi adalah manusia biasa yang bisa berbuat salah dan bisa berbuat dosa. mereka bisa adil dan bisa juga tidak. karena mereka adalah manusia biasa. Syi’ah juga meyakini ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa kemuliaan seorang manusia dilihat dari keimanannya, bukan dari “zaman dia hidup”. Jadi kalau sahabat Nabi itu hidup satu zaman dengan Nabi, tidak menjamin mereka semua mulia. karena kemuliaan diukur berdasarkan keimanan seseorang.

    3. Syi’ah meyakini kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman secara de facto, tetapi secara de jure, AMIT2…!!!

    4. Ikhwan2 Ahlulsunnah tidak perlu mewaspadai saudaranya sesama muslim dari Syi’ah. Karena yang seharusnya diwaspadai adalah orang yang berusaha memecah belah umat.

    Marilah kita melihat Hamas dan Iran saling bergandengan tangan melawan Israel Laknatullah. Marilah kita melihat Hizbullah yang berusaha menyatukan sunni, syi’ah, dan masyarakat Libanon yang bukan muslim untuk sama-sama melawan agresi militer Zionis Laknatullah.

    Lalu mana tuh salafy/wahabi? adem ayem di masjid seraya mencap kelompok yang melawan Israel dan Amerika sebagai kelompok sesat, yach?

    Marilah kita melihat raja Arab Saudi yang menjalin hubungan baik dengan Presiden Iran. Bahkan mengundang Ahmadinejad untuk menunaikan ibadah haji. Semoga aja teroris tidak berusaha membunuh Ahmadinejad di Mekkah.

    @hanif007
    makanya, kalau punya otak tuh mbok ya dipake gitu lho. itu fatwa dikeluarkan tahun brapa coba? ayo jawab kalau pinter.

    Inget gak tahun segitu yang memimpin bangsa ini siapa? tau gak jawabannya? nih tak kasih tau jawabannya. jawabannya adalah Soeharto si Tiran itu tuh.

    Dia ingin memimpin negara ini secara diktator dan otoriter. Pada saat itu MUI adalah anak kesayangan pemerintah.

    coba deh baca lagi baik2 isi dari fatwa tersebut.

    Di sana dikarenakan adanya keyakinan akan imamah (maksudnya imam/pemimpin haruslah dari Ahlulbayt, bukan Soeharto), maka Soeharto melalui MUI mengajak warga Indonesia untuk mewaspadai masuknya faham Syi’ah.

    Udah belum bacanya? dengan teliti yach.

    Pada fatwa tersebut, tidak ada tuh kata-kata MUI melarang atau menyesatkan syi’ah.

    So benar, postingan saya di: http://ressay.wordpress.com/2007/12/05/prof-dr-kh-umar-shihab-mui-tidak-pernah-menyatakan-syiah-itu-sesat/

    Mudeng gak? kalau gak, belajar lagi deh.

  22. hanif007 Desember 17, 2007 pukul 3:12 p

    bismillah…
    kayaknya fatwa MUI di atas, dah cukup mematahkan anggapan bahwa MUI enjoy2 aja ama Syi’ah.
    Alhamdulillah MUI kita cukup paham ttg Syi’ah. Semoga Allah memberi kita dan mereka hidayah dan kokoh di atasnya.
    Amin.
    Laa Syi’ah Wa Laa Qadariyyah
    Lakin, Islamiyah Salafiyah!!!

  23. susantoazis Desember 17, 2007 pukul 3:12 p

    Afwan, maksud Ayat yang saya tuliskan itu bukan surat Al-Baqoroh, tapi surat An Nisa’: 115.
    afwan, maaf……..

  24. susantoazis Desember 17, 2007 pukul 3:12 p

    Assalamu ‘alikum.
    to. Ressay.
    Awalnya, saya ingin mencoba husnuzon kepada anda.
    Tapi setelah saya coba, ternyata tidak bisa.
    Karena pelecehan terhadap Al-Qur’an dan Sunnah tidak bisa didiamkan oleh saya ataupun seluruh ummat muslim. bahkan anda harus diperingatkan dengan peringatan yang keras.
    Anda sudah melecehkan 2 Petunjuk yang Allah turunkan dimuka bumi ini. Jika i’tiqod anda adalah melecehkan, DEMI ALLAH sungguh anda telah sesat dalam kesesatan yang nyata.
    Allah telah berfirman dalam surat Al-Baqoroh,
    “Barang siapa yang menyelisihi Rasulullah setelah datang petunjuk bagi dia, dan mnyelisihi selain jalan orang2 mukmin (para shahabat). Maka Allah akan sesatkan mereka kemana mereka tersesat. dan Allah akan masukkan mereka kedalam nereka Jahannam. dan neraka jahannam adalah seburuk2 tempat kembali”.
    Saya peringatkan anda, BERTAUBATLAH ATAS PERKATAAN DAN I’TIQOD ANDA. Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman yang benar, yaitu para sahabat Ridwanullah ‘alaihim ajma’in. Tuntutlah ‘ilmu…….dan istiqomahlah diatasnya.
    Barokallahu Fikum
    Wassalamu ‘alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh.

  25. Junarto Desember 17, 2007 pukul 3:12 p

    Saya pernah mengkritik pemujaan terhadap Ali di sebuah situs Syiah, tapi banyak tulisan saya yang dihapus oleh pemilik blog. :)

  26. Suni Salafy Desember 17, 2007 pukul 3:12 p

    Coba baca Fatwa MUI ini :
    http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=8

    Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut :

    Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya :
    # Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
    #
    # Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
    # Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
    # Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/Pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan ummat.
    # Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).
    # Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (Pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada ummat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah

    semoga bermanfaat

  27. assalafiy...88 Desember 17, 2007 pukul 3:12 p

    bismillah
    to ressay:
    ana bingung juga ko antum ketawa dg kata Qur’an dan Sunnah, kelihatan antum ga ngerti kayaknya nih….., subhanalloh…., kata2 antum “hehehe…aneh yach” bisa difahami sebagai pelecehan terhadap Qur’an Sunnah, Wallohul musta’an, klo tdk tau! tanya baik2, insyaAlloh dijawab klo memang mau mencari kebenaran, begitu banyak blog ikhwahSalafy yg membahasnya tapi sepertinya di anggap angin lalu saja…., tidak dibaca dan difahami secara baik, bisanya cuman langsung ngasih coment dan main tuduh tanpa alasan yang ilmiah dan jelas..!!!. Bahasan yg ilmiah adalh ketika Qur’an dan Suunah Rosulullohu shallallahu ‘alaihi wa sallam bi fahmi salafush sholih menjadi rujukan utama dibanding selainnya. Allohu yahdikum

    dari : seorang manusia biasa yang berusaha merendahkan egonya ketika kebenaran haqiqi datang menyapanya, mudah2n dia dikokohkan di atas islam dan sunnah hingga akhir hidupnya .

    Dan hidayah taufiq datangny hanya dari ALLOh Robbul ‘alamin yang Maha Mengetahui siapa yang pantas mendapatkan taufiqNYa, mayyuridillaahu bihi khoyron yufaqqihu fiidin (brgsp yg ALLOH inginkn kbaikn pdx mk akn difahamnkn bgx agm).
    Baarokallohu fiikum

  28. Nanang Suryana Desember 16, 2007 pukul 3:12 p

    Sesama Muslim jangan selalu berdebat, mari kita sama-sama pertahankan dan memajukan Islam.

    Apasih yang bisa kita buat untuk agama kita, klo kita sibuk dengan perbedaan-perbedaan maka pihak lain akan sangat senang dan malah bisa-bisa memanfaatkan kita.

    Thx :)

  29. ressay Desember 16, 2007 pukul 3:12 p

    AL-Qur’an dan Sunnah?

    hehehe…aneh yach.

  30. ressay Desember 16, 2007 pukul 3:12 p

    mencela Abu Bakar? ya kritisi donk dalil2 yang disampaikan oleh orang-orang syi’ah, itu baru good. ok? jangan hanya menyebarkan propaganda saja.

    Mengkritik kok dianggap mencela.

    Coba baca postingan saya sebelumnya, insya Allah akan kita temui celaan bukan kritikan sampai-sampai mendoakan kejelekan buat sahabat Rasulullah yang mulia ini. Insya Allah akan datang pembahasan ilmiahnya.

  31. susantoazis Desember 15, 2007 pukul 3:12 p

    Assalamu ‘alaikum
    mohon maaf jika saya ikut campur, bukan saya ingin memperkeruh keadaan.
    Akan tetapi berangkat dari rasa risih saya terhadap “agama” syiah yang belakangan ini mulai memporak-porandakan aqidah kaum muslimin,maka saya-pun ingin angkat bicara.
    saya hanya ingin mengatakan :
    “Wahai kaum muslimin,buka-lah mata hati kita semua. Tuntutlah ‘ilmu yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pehaman yang pra shahabat Rasulullah .
    Kembali-lah kita kepada Sunnah.
    Rasulullah Bersabda,dalam hadistnya yang shohih.
    diterima dari ‘irbad bin syariyah. “….sesungguhnya jika kalian masih hidup sepeninggal-ku, kalian akan melihat perselisihan yang banyak. maka berpegang teguhlah kepada sunnah-ku dan sunnah khulafaur raysidin”.
    Kembalilah kepada Sunnah dan Kembalilah kepada Manhaj Para Shahabat”.

    dan untuk bapak muhsin labib.
    kembalilah kpada sunnah yang lurus.
    Carilah ‘ilmu yang shohih,Al-Qur’an dan AS-Sunnah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: